“Hari tanpa Berlusconi”, pekikan tersebut saat ini tengah ramai diteriakkan di Italia sana. Rakyat Italia sudah muak dengan segala macam tingkah PM Italia yang sudah memasuki usia senja tsb. Mulai dari kasus korupsi hingga skandal seks yang meibatkan perempuan2 muda di bawah umur. Mengerikan bagi Berlusconi ketika rakyatnya menolak kepemimpinan dirinya. Suatu tamparan yang sangat keras ketika pemimpin mendapatkan penolakan dari yang dipimpinnya. Hal yang sama juga tengah terjadi pada mantan PM Thailand, Thaksin Sinawatra. Semasa memimpin Thailand Thaksin sempat mendekati rakyat miskin sehingga dia sangat dekat dengan rakyat dan meninggalkan kesan tersendiri di hati rakyat kecil, namun seiring berjalannya waktu, Thaksin pun mulai lupa diri dengan kekuasaannya, rakyat kelas menengah yang lebih paham dengan apa yang terjadi mulai tidak percaya dengan Thaksin, dan mereka pun sama halnya dengan Italia, menolak Thaksin. Parahnya lagi, rakyat kecil yang pernah didekati Thaksin sangat mengidolakan Thaksin, akibatnya bntrokan massa antar kelompok masyarakat pun menjadi pecah di Thailand, sangat mengerikan ketika sesama rakyat suatu negara harus bentrok demi pemimpin yang korup seperti Thaksin. Thaksin pun mendapatkan penolakan yang sama, seperti halnya Berlusconi. Bagaimana dengan negara kita? Kita pun pernah mengalami hal yang demikian, yaitu ketika Soeharto mesti dilengserkan oleh rakyatnya sendiri. Ada benang merah yang sama yang mendasari terjadinya hal-hal yang demikian, yaitu ketika rakyat dilupakan, yaitu ketika ketidakadilan merajalela, yaitu ketika pemerintah menindas yang diperintahnya. Ketika keadaan menjadi demikian, bersiap-siaplah suatu rezim untuk menghadapi keruntuhannya, memasuki lubang kematian yang telah dibuatnya sendiri.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menyadari kesalahan masa lalu. Kita pernah mendapati kejadian bagaimana tragisnya akhir pemerintahan Soekarno yang mesti mengalami pengasingan oleh bangsanya sendiri akibat soekarno mulai lupa diri dan terjebak dalam tingkah politik yang dibuatnya, sehingga beliau mesti menghadapi kudeta bawahannya sendiri, Soeharto. Kita pun pernah mendapati bagaimana tragisnya kejadian lengsernya soeharto yang dilengserkan oleh rakyatnya sendiri akibat kebijakan pemerintah yang tidak bijak. Lalu apakah kita akan lagi mengalami hal yang sama? Satu hal yang pasti, kejatuhan suatu rezim terjadi ketika ketidakadilan hukum terjadi dan mafia peradilan bergentayangan membayangi wajah peradilan di suatu negeri.
Ketika Prita mesti membayar denda 204 juta terhadap suatu korporasi kesehatan karena dia menginginkan haknya sbg seorang pasien, ketika ibu minah mesti di vonis 1,5 bulan penjara akibat 3 buah kakao yang diambilnya dari korporasi perkebunan dan buah itu pun telah dikembalikan kpd mandor perkebunan tsb, ketika Manisah terjerat hukuman penjara akibat perbuatannya memunguti kapuk yang telah jatuh dari sebuah perkebunan kapuk, ketika seorang supir Badan Narkotika Nasional yang memiliki sebutir ekstasi harus dipenjara selama 2 tahun penjara sementara seorang jaksa yang ketahuan memiliki 300 butir ekstasi hanya dihukum 1,5 tahun penjara dipotong masa tahanan, ketika edy Tansil yang telah mengambil 1,3 trilyun uang negara dalam skandal perbankan masih bebas berkeliaran buron hingga 13 tahun, ketika anak jalanan, pengemis, orang miskin dan rakyat jelata ditambah lagi dari kalangan menengah bersatu padu mendukung Prita mengumpulkan uang receh untuk menyindir pelecehan keadilan hukum yang tengah terjadi di negeri ini. Ketika pelecehan disindir dengan perecehan. ketika polisi salah tangkap seorang sejarawan UI yang dianggap pencopet dan langsung memukulnya tanpa ampun. Ketika yang lain, ketika, yang lain, dan ketika ketidakadilan yang lain masih terjadi di negeri ini, akankah rezim bisa bertahan lama? Bahkan kasus Prita ini sampai-sampai mencuat ke kancah internasional. Tidak kurang dari salah satu media asing, International Herald Tribune, memberitakan kasus Prita secara mencolok di halaman SATU. Bukankah itu merupakan suatu pukulan telak untuk negara ini?? Ketika ketidakadilan dipertontonkan di muka internasional. Tidakkah para penegak hukum di negeri ini memiliki rasa malu?
Ada makna khusus ketika hari antikorupsi sedunia didekatkan dengan hari HAM sedunia yang hanya terpaut satu hari. Maknanya adalah bahwa korupsi erat kaitannya dengan pelanggaran HAM banyak orang. Bahwa dengan korupsi, setengah dari total negeri ini tidak bisa menikmati indahnya pendidikan, tidak bisa menikmati kesejahteraan hidup sehingga banyak orang d negeri ini yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Namun beruntunglah negeri ini masih dianugrahi penduduk yang memiliki empati yang sangat tinggi, ketika orang-orang seperti Minah, Manisah, dan Prita ditindas oleh yang tak kasat mata di negeri ini, masih banyak rakyat yang peduli dengan nasib mereka. Empati berakar dari kata emphateia yang berarti “turut merasakan”. Awalnya digunakan para teoritikus estetika untuk kemampuan memaham pengalaman subyektif orang lain. Namun sayangnya rasa empati hanya dimiliki oleh rakyt jelata, tidak dimiliki oleh para petinggi di negeri ini. Adanya empati keadilan bisa tercapai. Keadilan sesungguhnya adalah salah satu di antara sekian banyak atribut Tuhan yang sangat indah. Manusialah yang diberi amanat untuk menjaganya. Ketika amanat tidak dijalankan, masihkan Tuhan mempercayai makhlukNya?
Hukum pada mulanya bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial dan mencegah kezaliman suatu bangsa atas bangsa lain, atau atas seseorang atas orang lain. Namun ketika hukum hanya berlaku bagi mereka yang lemah dan tidak berlaku bagi mereka yang kuat, akankah tercipta suatu keadilan yang berkemanusiaan? Ada suatu ketimpangan sosial dari negeri ini karena ketidakberpihakan pemerintah kepada mereka yang lemah.
Suatu hari, Konfusius mendapati seorang perempuan tengah meratap di makam putranya. Sebelum itu, ayah mertuanya tewas, disusul dengan suaminya. Semua tewas dengan cara yang sama. Diterkam harimau. Sang Konfusius bertanya mengapa ia masih mau tinggal di tempat itu. Perempuan itu menjawab, “Di sini tidak ada pemerintah yang menindas”. Sebagian pembaca notes saya mungkin bisa menarik kesimpulan dari cerita tersebut,.
Kembali ke cerita awal pada notes ini, Berlusconi tinggal menunggu kehancurannya, Thaksin sudah lebih dulu dilengserkan, lalu kini apa yang terjadi dengan negeri ini. Tampaknya SBY pun merasakan hal yang sama, dengan perkataannya di sejumlah media massa mengena kekhawatirannya terhadap demo hari antikorupsi yang disinyalir digunakan untuk menggulingkan kekuasaannya yang sah. SBY memang sering berkeluh kesah terhadap rakyat yang belum terbukti kekhawatirannya. Demo hari anti korupsi telah usai digelar, dan apakah kekhawatirannya terbukti? Ternyata adem adem aja tuh.. bukan hanya sekali ini saja sang presiden berkeluh kesah terhadap rakyatnya, ketika bom meledak di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton pada pertengahan Juli 2009, SBY mengatakan “Saya dijadikan sasaran tembak; ini data intelijen; lihat ini fotonya; ini fakta, bukan gosip”. Padahal kemudian terbukti foto itu adalah foto ketika menjelang Pemilu presiden 2004 kelompok teroris menjadikan para kandidat presiden dan wapres (bukan hanya SBY) sebagai sasaran tembak. Sering kali beliau berkeluh kesah kepada rakyatnya, tapi rakyat dengan sabar tidak berkeluh kesah kepada beliau walaupun kehidupan rakyat semakin sulit. Seorang pemimpin bangsa sepatutnya memberikan rasa aman kepada rakyatnya dan bukan membuat rakyat gundah dan ketakutan. Pantaskah jika untuk menghadapi demonstrasi damai 9 Desember 09 pasukan marinir siaga 1 dan digelar di sekitar gedung KPK, Bundaran HI, Monas, dan Istana?
Teringat benak ini dengan pesan Soe Hok Gie 36 tahun yang lalu yang kiranya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Hari ini aku lihat kembali wajah-wajah halus yang keras... Dan bercita-cita, menggulingkan tiran; Aku mengenali mereka; Yang tanpa tentara; Mau berperang melawan diktator... Dan yang tanpa uang, mau memberantas korupsi; Kawan-kawan; Kuberikan padamu cintaku; Dan maukah kau berjabat tangan... Selalu dalam hidup ini? (Soe Hok Gie, “Pesan”, Sinar Harapan, 18 Agustus 1973). Yang patut diingat oleh SBY, gerakan-gerakan antikorupsi yang selama ini sering didengungkan oleh para aktivis tidak selamanya bertujuan menjatuhkan pemerintahan, melainkan adalah gerakan agar pemerintah berjalan di rel yang benar. Jadi, kalau memang benar benar merasa tidak terlibat dengan skandal Century, dan bersih dari segala tindak tanduk konspirasi kekuasaan, mengapa harus takut digulingkan dari kekuasaan??
skip to main |
skip to sidebar
Sebuah jurnal pribadi, catatan tentang pemikiran yang berkecamuk dalam menanggapi fenomena sosial masyarakat di sekitarnya
Jumat, 18 Desember 2009
der Dunkelheit's Fan Box
der Dunkelheit on Facebook
KafeBlogger.com
Mengenai Saya
- iman krisman
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
- orang yang tidak oportunis, optimis, dan tidak borjuis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar