Jumat, 18 Desember 2009

Elegi ibu Minah..

Koran KOMPAS edisi jumat ini belum sempat kubaca, ketika tengah memasukkan data-data penelitian ke dalam laptop, sekilas mata ini melihat tulisan yang menggelitik pikiran pada halaman awal koran bertiras terbanyak di Indonesia itu, tangan ini pun tergerak untuk mengambil Koran tersebut dan langsung mata ini tertuju pada sebuah tulisan yang sangat menggugah perasaan kita sebagai manusia. “Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau”, itulah judul awal sebuah artikel di lembar utama Koran tersebut, yang sangat mengguncang kemanusiaan saya sebagai manusia, bagaimana tidak, seorang nenek 55 tahun yang buta huruf divonis 1 bulan 15 hari karena mengambil 3 buah kakao yang akan dijadikan bibit oleh nenek tersebut di ladang pertaniannya..!!

Ya Tuhan…, keanehan apalagi yang tengah di pertontonkan belantara hukum di negeri berkembang ini?? Dagelan hukum apalagi yang kan dipertunjukkan di pentas penegakan hukum di negeri ini?? Ketidak adilan apalagi yang hendak ditunjukkan para penghukum dan pengadil di negeri ini??
Sakit terasa hati ini ketika membayangkan seorang nenek tua yang mesti menghadapi kursi pesakitan karena ketidaktahuannya atas apa yang dilakukannya. Tahukah kawan? Mengapa sang nenek sampai tidak mengetahui bahwa mencuri itu dilarang? Karena beliau tidak berpendidikan. Kenapa tidak berpendidikan? Karena dana pendidikan tidak sampai kepada orang kecil jelata seperti mereka. Kenapa tidak sampai? Karena dana pendidikan habis di makan kejamnya birokrasi yang tak lebih hina dari sebuah borokrasi.

Ibu minah tak lebih hanyalah seorang nenek yang hendak mengambil kakao untuk bibit lahan pertaniannya yang tak seberapa. Disinilah kita bisa melihat kedigdayaan sebuah perusahaan kakao dalam memarjinalkan rakyat jelata yang tak mengerti apa-apa. Jaksa dengan begitu semangatnya menuntut sang nenek dengan segala tuntutannya, tapi berbeda halnya ketika jaksa mesti menuntut Anggodo, apakah jaksa tsb masih bernyali layaknya ketika menuntut Minah? Mengapa jaksa begitu semangat menuntut rakyat jelata yang ‘hanya’ mencuri 3 buah kakao yang nilanya tak seujung kuku pun dari dana yang digelontorkan untuk Century? Dimana lagi keadilan bisa didapatkan jikalau penegak hukumnya seperti itu? Dimana lagi kita mesti mencari keadilan tak terperi jikalau penegak hukum lebih peduli dengan 3 buah kakao daripada dana 6,7 trilyun yang tak jelas lari kemana?

Padahal seandainya para penegak hukum itu bisa menghitung, sedikit pelajaran matematika dasar yang (mungkin) pernah dipelajarinya di bangku sekolah menengah, 6,7 Trilyun lebih dari cukup untuk membiayai pelaksanaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) yang dalam APBN hanya membutuhkan dana 6,6 Trilyun. Sehingga dgn adanya SIAK tsb, kekisruhan data pemilih tetap pada setiap Pemilu tidak akan terjadi lagi. Rakyat menjadi memiliki identitas yang pasti. Uang 6,7 Trilyun juga cukup untuk membeli 6.700 buah Toyota Crown Majesty yang kini menjadi tunggangan menteri cabinet. Uang 6,7 trilyun apabila dibelikan beras (yang berharga Rp 7000) maka akan didapatkan 957,15 juta kg, dan jika beras itu kemudian disebarkan ke seluruh penjuru pulau Jawa, maka wajah pulau Jawa akan terlihat putih jika dilihat dari atas.

Tidak inginkah para penegak hukum yang terhormat untuk mengembalikan uang yang besarnya tak tehitung Minah yang buta huruf itu? Tak banyak yang diinginkan rakyat selain terciptanya rasa keadilan di negeri tercinta ini. Apakah dengan menjebloskan seorang Minah lantas bisa mengentaskan kemiskinan di negeri ini? Yang jelas dengan memberantas orang2 seperti Anggodo, Anggoro, Artalyta, yang bermain main dengan mata para penegak hukum, kemiskinan bisa dientaskan, dan rasa keadilan rakyat bisa dikembalikan pada tempatnya. Pertanyaannya sekarang, adakah orang yang memiliki keberanian layaknya seorang Hatta yang berani mengundurkan diri sebagai Wapres karena ketidaksetujuannya terhadap kebijakan Soekarno yang tidak berpihak pada rakyat.

Belum hilang rasa sakit karena menyaksikan bagaimana dahsyatnya penindasan korporasi terhadap rakyat jelata, bertambah pula sakit hati ini ketika menyaksikan tidak ada satu orang pun dari fraksi democrat yang mendukung angket century. Kemanakah hati nurani anggota dewan yang terhormat? Padahal mereka ini memiliki jumlah mayoritas di parlemen karena pada pemilu kemarin mereka mencapai kemenangan gemilang yang mencapai hampir 30% suara. Tapi jumlah mereka yang banyak ternyata tidak membawa suara rakyat? Ada apa lagi ini? Sementara ada 8 fraksi yang lain yang mendukung angket Century, koq ini satu fraksi kompakkan tidak ada yang mendukung angket tersebut? Ini jelas melukai hati rakyat, yang selama ini selalu terpinggirkan oleh makna demokrasi yang dangkal. Padahal rakyat menginginkan kejelasan uang yang jumlahnya amat sangat besar tsb, tapi di DPRnya sendiri malah tidak digubris oleh fraksi mayoritasnya. Tidakkah para penganut faham demokrasi itu tahu, bahwa ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’? representasi menjadi bias karena ketiadaan kepahaman mengenai rasa dan nurani.

Keterwakilan adalah suatu keniscayaan di sebuah Negara yang menganut demokrasi. Ketika keterwakilan mnjadi ketidakterwakilan, siapkah Negara tersebut menghadapi mobokrasi yang berujung pada anarki? Belumlah terlambat untuk memperbaiki diri, selalu ada kesempatan kedua, tapi tak akan ada kesempatan ketiga bagi mereka yang tidak pernah belajar dari kesalahannya.
Akhirnya, hujan pun reda ketika penulis menyelesaikan tulisan yang tak lebih dari sekedar ‘curhat’an sederhana dari seorang pemuda. Redanya hujan membuatku berangan-angan kapankah ketidakadilan ini mereda? Haruskah menunggu 2012 terjadi supaya keadilan bisa tegak di muka bumi. Keadilan memang sulit tapi bukan berarti tidak bisa ditegakkan.

Banyak yang berbicara, bahwa apa yang saya tulis tak lebih dari sebuah angan angan surga yang tak mungkin kita jangkau, bahwa apa yang saya tulis dalah sebuah idealism yang tak mungkin kita tempuh. Tapi, selantang apa pun orang tak suka dengan apa yang ku tulis, saya tetap berkeyakinan “daripada kita mencaci kegelapan, lebih baik kita mulai meneranginya dengan memulai menyalakan lilin”. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk membuat negeri ini bangkit dari keterpurukan. Lebih baik, ada yang kita lakukan, daripada hanya bisa mengomentari apa yang belum tentu bisa dibuat oleh dirinya sendiri. Terkadang, sebuah tulisan bisa menggerakkan pergerakan, menggulingkan kekuasaan, dan mengingatkan adanya suatu kejahatan. Mungkin, anda ingat betapa dahsyatnya pesona Laskar Pelangi yang bisa menggetarkan motivasi untuk mencari pendidikan, atau dahsyatnya The Da Vinci Code yang menguncangkan keimanan para pembacanya, atau kekuatan seorang Leo Tolstoy yang bisa meruntuhkan sebuah rezim di Uni Soviet, jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah tulisan, karena terkadang tulisan lebih kuat dan tajam dibandingkan senjata..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar