TERSENTAK melihat skrip percakapan rekaman anggodo yang ditulis di kompas edisi kemarin. Sudah sedemikian parahkah bangsa yang disebut sebagai bangsa Indonesia? ketika nurani tiada berbekas, hati ini seakan lekas ingin bicara. Tak ingin rasanya hati ini menonton siaran televisi, yang hanya bisa mempertunjukkan dagelan erotis kebobrokkan moral para petinggi bangsa. yang hanya bisa saling tuding klaim kebenaran. tidak adakah yang melihat esensi dari berlarut-larutnya kasus ini selain daripada sebagai salah satu upaya pemelaratan rakyat jelata?? Orang menjadi lebih sibuk dukung KPK, tuding Polri, hina jaksa, pro MK, dukung SBY, padahal di Ponorogo sana ada warga satu kampung (malah satu generasi) yang menderita keterbelakangan mental (alias gila) akibat insecst yang dilakukan kakek nenek mereka pada era 60-70an dan BELUM TERSENTUH BANTUAN SEDIKIT PUN dari pemerintah. Bahkan pada pembagian BLT kemarin pun mereka tidak mendapatkannya. Tak terkira rasanya derita seorang nenek tua berumur 67 tahun yang mesti banting tulang karena anggota keluarga yang lainnya menderita gangguan jiwa. Dan dimana pemerintah?? Jawabannya, saling membela diri menghindari tudingan kanan kiri seakan-akan dirinya yang paling bersih.
TERHINA melihat uang (yang dalam benak rakyat miskin mungkin tidak akan pernah bisa menghitungnya dalam rentang seumur hidupnya) digelontorkan begitu saja demi menyelamatkan sebuah bank kecil yang bernama Bank Century. bantuan (yang walaupun gw ga setuju) yg bernama BLT saja tidak sampai mencapai agka 6.7 TRILYUN. Tapi ini dengan mudahnya digelontorkan dengan sangat mudah kepada orang yang dalam dompetnya tidak akan ada uang pecahan 1000 rupiah. Dan suatu penghinaan yang sangat besar ketika mereka yang dalam dompetnya tidak ada pecahan uang 1000 rupiah tersebut hanya dihukum 4,5 tahun. OMG, 6,7trilyun cuman dapet tiket hotel prodeo selama 4,5 tahun.?? Mantan petinggi BI saja yang notabene tdk menikmati hasilnya karena bertanggung jawab terhadap penyalahgunaan keluarnya dana 1 Milyar dari YPPI nesti menginap 5 tahun.
TERTUNDUK ketika ada orang2 yang berusaha menelusuri perginya 6,7 T tersebut mesti mendekam di balik terali besi karena ada para petinggi di negeri ini yang merasa kepentingannya terganggu. Disebutnya lah bahwa lembaga yang bernama KPK tsb adalah lembaga super body, padahal apakah otaknya yang bebal itu tahu, ada komisi lain yang jauh lebih super body dibandingkan KPK, tapi ya karena komisi tsb tdk mengganggu kepentingan pejabat itu, jadinya ya ora opo opo. begitulah akibatnya ketika nafsu kolonialisme kanibalis bangsa sendiri lebih dominan daripada nuraninya.
Begitulah akibat fatal ketika bangsa ini lebih tertarik pada hal-hal yang berbau pencitraan daripada sesuatu yang sifatnya jangka panjang. Ketika orang lebih tertarik pada kemasan dibandingkan isinya, mereka haruslah bersiap dengan resiko mendapatkan isinya ternyata adalah sesuatu yang busuk. dan suatu keprihatinan yang amat sangat luar biasa, ketika orang menjadi lebih tertarik memperbincangkan pertarungan para digdaya-digdaya hukum, orang berkumpul di jalanan meneriakan dukungan terhadap suatu komisi, sementara ada di tengah-tengah demonstrasi itu yang menadahkan tangannya mengharapkan belas kasihan dari para manusia yang sedang "mengingatkan" pemerintah.
MENANGIS ketika jari ini hanya bisa meratapi nasib bangsanya yang tengah terpuruk dan tertatih tatih lewat suatu note di dunia maya, tanpa ada kekuatan untuk mengadakan perubahan radikal. Karena dia hanya lah seorang staff rendahan di sebuah pabrik di Jawa Barat. terluka hati ini ketika sadar bahwa dirinya hanya bisa menghina, mencerca, memaki bobroknya negeri tercinta ini tanpa bisa meperbaikinya dengan suatu tindakan realistis. Tapi haruskah untuk menjadi bangsa yang lebih baik harus melewati kejadian seperti tahun 98 lagi?? Haruskah untuk menjadi bangsa yang bermartabat kita mesti perang saudara hingga keluar korban nyawa layaknya era 98 kemarin?? Sementara bangsa lain sudah mempersiapkan warganya supaya bisa liburan di bulan, bangsa ini lebih fokus mempersiapkan warganya supaya bisa liburan di tempat paling tenang dalam keabadian. tercabik rasanya ketika melhat bangsa tetangga yang mencapai kesuksesan luar biasa, padahal usianya tidak lebih dari separuh kemerdekaan kita. tapi, hati ini masih bersyukur karena Tuhan masih memberikan nurani dan perasaannya terhadap hambanya yang lemah ini. tidak seperti mereka di atas sana yang kadang terselip pertanyaan dalam hati, masihkah mereka percaya ada Tuhan di sana yang senantiasa mengawasi segala perbuatan hamba-Nya? teringat benak ini terhadap apa yang telah diucapkan Leo Tolstoy 1 abad yang lalu, Tuhan Maha Tahu tapi Dia Menunggu...
apakah kita akan menunggu Tuhan mengingatkan kita dengan azab-Nya??
skip to main |
skip to sidebar
Sebuah jurnal pribadi, catatan tentang pemikiran yang berkecamuk dalam menanggapi fenomena sosial masyarakat di sekitarnya
Jumat, 18 Desember 2009
der Dunkelheit's Fan Box
der Dunkelheit on Facebook
KafeBlogger.com
Mengenai Saya
- iman krisman
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
- orang yang tidak oportunis, optimis, dan tidak borjuis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar