Kamis, 24 Desember 2009

tahun baru semangat baru?? harus..!!

2009 tinggal menghitung hari berganti menjadi 2010. Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2009 dimana tahun tersebut adalah tahun yang sangat dramatis bagi bangsa ini. Pada tahun itu, kita banyak disuguhi adegan sekaligus dagelan yang terkadang membuat sebagian orang bercucuran air mata, terkadang membuat sebagian orang tertawa senang dengan kemenangan yang diraihnya, ada pula sebagian orang yang dibuat menangis bercucuran air mata akibat kesengsaraan yang menimpanya, ada lagi sebagian orang yang terpingkal-pingkal menonton adegan dagelan drama kehidupan yang sebetulnya tidak patut untuk ditertawakan, ada lagi sebagian orang yang merasa shock karena ‘katempuhan’ kebijakan yang ditempuhnya ternyata berbuntut sangat panjang.
Layaklah tahun 2009 dinamakan sebagai tahun drama. Mengapa? Karena memang ada begitu banyak efek-efek dramatis yang terjadi di tahun ini layaknya panggung akting kolosal yang pemainnya terdiri dari begitu banyak pemain yang terangkum dalam suatu drama kehidupan. Ada drama yang mengharu biru, ada drama yang menjengkelkan, ada drama yang membahagiakan, ada drama yang membuat geli, ada pula drama yang penuh kepura-puraan. Namun satu hal yang pasti, drama-drama tersebut endingnya belum bisa diketahui walaupun tahun drama tersebut tinggal seminggu lagi. Apakah endingnya sad ending? Atau happy ending?? Tak ada yang tahu, karena yang tahu masa depan, bukanlah mama loreng ataupun ki joko bego, tapi hanya Dia Yang Maha Tahu yang mengetahui ending dari drama kehidupan di bumi pertiwi ini.
Diantara sekian banyak adegan-adegan dalam drama Indonesia edisi 2009 ini, ada beberapa episode yang menempati box office mass media, karena memang saking seringnya nongkrong di pemberitaan mass media.
Ada kasus Prita yang begitu menguras air mata rakyat ini karena ketidakadilan yang dideritanya atas gugatan sebuah korporasi kesehatan. Undang-undang yang digunakan untuk menjerat Prita adalah UU ITE, yang memasung kebebasan berpendapat di media elektronik. Dukungan pun berbondong-bondong datang dari berbagai kalangan yang menolak digunakannya pasal dalam UU ITE tsb, karena memang pasal tsb adalah pasal karet. Sementara ketika ada Luna Maya yang menceritakan curhatannya tentang kelakuan awak infotainment thd privasinya lewat social networking Twitter, para wartawan justru scr berbondong-bondong pula menggugat Luna Maya atas tulisannya di Twitter dengan pasal berlapis salah satunya adalah pasal UU ITE tsb. Ini adalah salah satu adegan konyol yang diperlihatkan sebagian orang di negeri ini. Koq di satu sisi mereka menolak UU ITE, tapi di sisi lain mereka menggunakan pula untuk menggugat orang. Ini kan aneh..! orang sunda bilang hal yang seperti itu sbg sesuatu yang ‘dipoyok dilebok’. Di satu sisi mereka menolak, tapi di sisi lain mereka pun menggunakannya. Suatu hal yang ironis.
Episode berikutnya yaitu Depkominfo yang saat ini tengah menggodok Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tentang penyadapan. Padahal esensi dari dibuatnya PP tsb adalah untuk membatasi ruang gerak KPK dalam melakukan penyadapan koruptor. Nah yang menjadi menarik adalah, KPK adalah suatu lembaga negara independen yang TIDAK bisa diatur oleh peraturan sekelas PP, kalo mau mengatur ya.. harus melalui suatu proses legislasi di DPR sehingga menghasilkan UU yang mengatur tentang penyadapan. Jadinya kan aneh,, PP itu tingkatannya dibawah UU, dan KPK itu hanya bisa diatur dengan UU,, jadi tujuan dibuatnya PP untuk apa dong?? Padahal dengan adanya penyadapan oleh KPK kita menjadi tahu bagaimana bobroknya wajah peradilan di negeri ini. Jika tidak ada rekaman KPK, kita tidak akan tahu ada orang orang seperti Anggodo, Urip, Artalyta, yang bisa memainkan hukum dengan tangannya sendiri. Ketika KPK menyadap kabareskrim, banyak bihak2 yang dengan angkuhnya mempertanyakan kewenangan KPK dalam penyadapan tsb. Anggodo pun mempertanyakan pertanyaan yang sama, apa kewenangan KPK terhadap penyadapan dirinya. Padahal disini jelas, KPK tengah mengusut kasus dugaan korupsi Masaro. Jadi KPK sangat berwenang sekali. Tapi, ketika rekaman HP Nasrudin diputar di pengadilan, tidak banyak yang mempertanyakan kewenangan nasrudin menyuruh rani juliani untuk menyadap pembicaraan antasari dan rani tersebut. Apa kewenangan nasrudin disana? Padahal jelas disana, Nasrudin berupaya untuk menjebak antasari dengan menyuruh Rani supaya tetap menghidupkan handphonenya ketika pembicaraan rani dan anasari berlangsung. Nah, apakah ada yang mempertanyakan mengapa nasrudin bisa dengan bebasnya menyadap ketua KPK?? Jawabannya tidak ada.
Episode yang lainnya yaitu rekomendasi dari Pansus Century di DPR yang menghasilkan imbauan kpd Presiden supaya menonaktifkan wapres Boediono dan menkeu sri mulyani. Nah yang aneh, di dalam konstitusi kita tidak dikenal adanya istilah penonaktifan wapres dan menkeu jika tidak ada dakwaan dari pengadilan. Seperti kita ketahui bersama, posisi wapres dan menkeu sekarang ini baru sekedar ‘dicurigai’, belum pada tahap sbg ‘terdakwa’, jadi, himbauan tsb ya tiada guna. Apakah para anggota dewan yang terhormat tersebut tidak membaca UU terlebih dahulu sebelum menelurkan sebuah himbauan? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Hanya dari sini kita bisa membaca scr sekilas sejauh mana kemampuan para legislator tsb dlm memahami suatu produk hukum. Berkualitaskah? Anda sendiri mungkin sudah bisa menjawabnya.
Episode yang sangat menarik adalah episode ‘kriminalisasi terhadap KPK’, wah... episode ini begitu panjang dan begitu menarik ceritanya. Sampai – sampai melibatkan dunia reptil dalam episode tersebut. Ada sang cicak, dan ada pula sang buaya. Kepolisian yang pada 7 bulan yg lalu mendapatkan pujian yang begitu derasnya karena telah berhasil menangkap gembong teroris Nurdin M Top, harus menelan pil pahit yang sangat banyak ketika keborokannya terungkap di meja MK lewat pemutaran rekaman Anggodo. Pil pahit berkali kali menimpa polisi ketika diawali oleh ocehan Susno lewat perkataan yang sangat fenomenal, ‘cicak – buaya’, berlanjut dengan penahanan Bibit – chandra yang menuai berbagai kecaman dari berbagai kalangan, hingga pemecatan mmm... maaf .. penonaktifan susno duaji sebagai kabareskrim. Drama semakin seru ketika kepolisian membantah bahwa penonaktifan tsb akibat kasus century, polri berkilah itu sebagai sebuah proses rutin pergantian perwira polri. Padahal secara tersirat bisa dilihat, penonaktifan tsb sbg salah satu upaya polri dalam menyelamatkan harga diri institusi tsb. ( ada sedikit pesan untuk Pak Susno, lain kali kalo mau telfon2an dgn anggodo jgan pake ‘duaji’, pakenya yang ‘triji’, jadi nggak kesadap sama KPK ).
Drama yang sangat menguras air mata adalah ketika seorang Minah dan seorang Manisah yang dihukum penjara akibat perbuatan yang dilakukan mereka yang disebut oleh pengadilan sebagai suatu pencurian. Akibat perbuatannya itu, mereka mesti menerima vonis penjara. Tapi ketika ada Eddy Tansil yang telah buron merampok uang negara sebesar 1,3 trilyun apakah ada upaya untuk menangkapnya? Atau ketika Century menerima ‘bantuan talangan’ 6,7 trilyun apakah pengadilan atau para penegak hukum berani mengatakan itu sebagai sebuah pencurian?? Kita tunggu bersama, bagaimana ending dari drama yang jomplang ini, ketika hukum hanya berani menyeret yang lemah tapi tidak bagi yang kuat, tidak bagi mereka yang dekat dengan kekuasaan, dan tidak bagi mereka yang memegang tampuk kekuasaan.
22 desember ini adalah banyak orang mengatakannya sebagai hari ibu. Sudah sepantasnya lah kita menghormati beliau dan menempatkannya dalam posisi yang terhormat dalam hidup kita. Sudah sepantasnya pula kita berbakti dan mengabdikan hidup kita untuk beliau (i luv u mom). Begitu pun dengan ibu pertiwi. Sudah sepantasnya lah kita mendarmabaktikan hidup kita untuk kemajuan ibu pertiwi, supaya ibu pertiwi tidak selalu dirundung duka lara, supaya senyum bisa terkembang di wajahnya yang elok yang saat ini tengah bopeng akibat kelakuan tikus tikus tak bernurani yang tak mengenal rasa kemanusiaan. Yang ingin saya ingatkan adalah, 22 desember merupakan momentum tepat 2 bulan SBY memimpin negeri ini dalam paruh kedua pemerintahannya. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa dua bulan terakhir ini Indonesa hanya dipenuhi oleh kegaduhan dan intrik politik. Tidak ada optimisme yang telihat dalam dua bulan pemerintahan yang telah dilalui. Dalam kondisi yang seperti ini, mungkin terkadang SBY merindukan sosok JK yang jika dalam kondisi yang seperti sekarang JK akan tampil mengangkat wibawa pemerintah. Tidak begitu dengan Boediono yang terlihat pasif. Ketika rencana menaikkan BBM bergulis pada era pemerintahan yang lalu, JK lah yang berani mengundang pihak oposan dan para wartawan ke istananya untuk berdebat keras mengenai alasan kenaikan BBM hingga ada dialog yang positif sehingga perbedaan pemikiran bisa diluruskan. Berbeda dengan kondisi sekarang yang setiap permasalahan malah dibiarkan menggelinding menjadi bola panas yang menggelinding secara liar tak tekendali. Ada begitu banyak isu, ada begitu banyak spekulasi yang berkembang karena ketidak siapan pemerintah dalam mengadakan dialog terbuka. Ketika semuanya dibiarkan tidak terkendali bukankah malah menimbulkan keresahan di masyarakat yang pada akhirnya akan menimbulkan chaos di suatu hari nanti??
Dua bulan masa pemerintahan sudah sepantasnya lah pemerintah memberikan beberapa kemajuan2, bukannya memberikan kekisruhan politik dan intrik2 politik. Tanpa disurvei sekali pun, popularitas SBY saat ini pasti turun. Dua bulan ini pernafasan rakyat hanya dipenuhi oleh udara kotor yang berasal dari keributan politik. Seminggu lagi kita menghadapi udara baru 2010 sudah seharusnya kita tersadarkan untuk membalik semua keadaan yang terjadi sekarang ini menjadi keadaan yang lebih baik. Kita melangkah menuju hari esok yang lebih baik dengan tetap sesekali melihat ke belakang agar masa yang telah lalu dijadikan bahan pelajaran untuk perbaikan di masa datang. Kita tidak ingin kejadian ditimpuknya Berlusconi oleh seorang warganya yang mengakibatkan dua giginya patah terjadi disini. Kita tidak megharapkan pemimpin seperti Berusconi yang lebih mementingkan operasi pelastik dan penyambungan rambut agar tetap terlihat segar di depan rakyatnya ketimbang terlihat lelah akibat kelelahan mengurus rakyatnya. Kita tidak menginginkan pemimpin yang hanya bisa menjual pesona ragawi semata. Kita menginginkan pahlawan nasional yang bisa menjadi pemimpin dunia, bukannya pemimpin dunia yang dijadikan pahlawan nasioanal, bahkan hingga dibuatkan patungnya di salah satu taman di jakarta sana.
Tahun baru.. harapan baru.. dan semangat baru.., tapi tidak sampai harus ada presiden baru bukan??

Selamat tahun baru 2010..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar