Jumat, 18 Desember 2009

Pelacur kekuasaan..

Terbiaskan dalam suatu diaspora definisi keadilan.
adilkah dunia, ketika sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai pejabat tinggi negara mempermainkan suatu produk manusia yang bernama hukum. Padahal ada suatu hukum yang telah disediakan oleh Dia Yang Maha Suci untuk kebaikan umat manusia, tapi tak pelak manusia pula yang menistakan dirinya dengan menolak apa yang telah disediakan Yang Maha Kuasa untuknya.

Pesona duniawi membuat sekelompok orang yang mengerti akan hukum menjadi pelacur kekuasaan.

adilkah dunia, ketika orang beramai ramai saling memberikan dukungan demi suatu frasa yang berbunyi "demi tegaknya supremasi hukum di Indonesia" sementara ada 70 juta rakyat miskin di negeri kita yang hidup terlunta-lunta di tanah kelahirannya sendiri. Rakyat tidak mengerti apa yang tengah dipertarungkan oleh sang kadal dan sang komodo di tengah tengah derasnya arus ketimpangan sosial di bumi pertiwi. Yang rakyat tahu uang yang diperuntukkan demi "menyelamatkan" suatu bank "spesial" sangatlah lebih dari cukup untuk membeli berton-ton pupuk untuk menghidupi lahan pertanian yang kini jumlahnya semakin tergerus oleh derasnya arus pembangunan akibat kolonialisme oleh saudaranya sendiri yang dulu sering dielu-elukan sebagai SAUDARA SEPENANGGUNGAN. Yang rakyat tahu, uang yang jumlah angka nolnya sendiri rakyat smpai bingung untuk menghitung jumlahnya, sangatlah lebih dari cukup untuk membangun infrastruktur pendidikan sampai pelosok pedesaan yang paling dalam sekali pun. Bahkan, sekolah gratis pun bisa terlaksana tanpa harus menyewa Cut Mini sbg bintang iklan yang mengklarifikasi konsep sekolah gratis padahal sekolah tidak pernah benar-benar gratis.

adilkah ketika 70juta rakyat mesti dikorbankan demi SATU BANK KECIL yang pemasukannya belum tentu dapat mensejahterakan rakyat. Beruntunglah, wahai para pejabat yang terhormat, bahwasanya anda-anda ini memiliki rakyat yang pemaaf dan berhati besar. Mereka yang mayoritas di negeri ini lebih memilih pasrah terhadap kehendak takdir yng mewarnai jalan hidup mereka. Bersyukurlah, kalian para petinggi negara diberikan rakyat yang sabar dan bisa menahan diri terhadap kesulitan hidup yang terus menderanya sepanjang masa hidupnya. Apakah anda para petinggi negeri malang ini tidak melihat tetangga kita Thailand? atau lebih jauh lagi ke Honduras? atau di Afrika sana ada Zimbabwe? atau Pakistan. Inginkah kalian, para pejabat yang terhormat, negeri kita menjadi seperti Thailand yang rakyatnya terpecah karena politik para petingginya?? ataukah anda ingin seperti Pakistan yang setiap harinya di landa bom? Atau ingin seperti Honduras yang presidennya dikudeta secara militer? Atau lebih parah lagi, mau seperti Zimbabwe yang mengalami HIPERINFLASI hingga mencapai 10000% sampai sampai ada pecahan uang 1 milyar saking tidak berharganya mata uang mereka?

cobalah untuk belajar memahami keinginan rakyatnya, rakyat tidaklah buta, tidaklah tuli, tidaklah bisu. Mungkin saat ni keamanan masih stabil, tapi apakah masih ada jaminan kejadian thn 74 atau thn 98 akan terulang kembali?

kita tidaklah menginginkan pejabat yang bertitel tinggi tapi berhati penguasa. Belanda memang kejam karena kita telah dijajah 3,5 abad oleh mereka, tapi lebih kejam lagi mereka yang sama-sama senasib sepenanggungan yang malah menghancurkan saudaranya sendiri. Adakah orang seperti itu yang kita sebut sebagai pejabat tinggi negara? jika seperti itu, maka sebutan yang paling cocok adalah pelacur kekuasaan yang sifatnya selalu menempel pada orang yang memiliki modal besar.

esensi perkara menjadi terbiaskan akibat keinginan untuk saling unjuk kekuasaan kekuatan sebuah lembaga penegak hukum. Padahal, apakah mereka tidak tahu (atau pura-ura tidak tahu) bahwasanya ada kekuatan yan lebih besar dari kekuasaan yang mereka miliki? Ada Dia Yang Maha Kuasa yang dengan sedikit kuasaNya saja bisa melululantakkan negeri ini dalam sekejap mata. Tidak cukupkah kejadian yang menimpa Tasikmalaya dan Padang kemarin? Tidak cukupkah satu generasi mesti hilang terbawa ombak tsunami? Tidakkah mereka belajar dari kejadian lampau?

Tapi wajarlah bila kita tidak sukses menjadi bangsa yang besar, karena sesungguhnya bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa meghargai sejarahnya dan berusaha memperbaiki dari kejadian di masa lalu. TIdak iri kah kita dengan bangsa Korea Selatan yang kemerdekaannya sama dengan kita, tapi kemajuannya jauh melebihi kita? Tidak irikah kita dengan korsel yang memewajibkan warganya untuk sekolah dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam demi kemajuan bangsanya?

retorika tak lebih dari seni bersilat lidah. kemarin para wakil rakyat dan petinggi2 yang lain mengadakan rapat hingga jam 2.30 pagi. Adakah suatu titik terang yang didapatkan? yang didapatkan tak lebih dari sekedar dagelan politik yang kualitasnya jauh di bawah srimulat, karena rakyat sudah mengetahui ending ceritanya.

masihkah tersisa sedikit nurani dalam diri mereka ketika mereka menginjak-injak kedaulatan rakyat? Bertingkah layaknya pemain sinetron yang tidak mendidik dan memuakkan.!!

Berhentilah kau berpura-pura karena panggung sandiwara dunia fana akan segera berakhir. Ingatlah ada laknat Tuhan menanti ketika kita tidak segera tersadarkan bahwasanya ada banyak hal yang harus kita perbaiki.

Maafkan saya yang hina ini bila terlalu lancang memainkan jari di atas pc. Karena ini tak lain sebagai kecintaan saya terhadap negeri ini. Apa yang saya punya selain kemampuan untuk menuliskan tulisan2 tak berbobot ini, karena tanda tangan saya tidaklah berharga seperti tandatangan anda para pejabat yang sekali teken bisa mengelontorkan dana hingga trilyunan rupiah. Tanda tangan saya hanya seharga sebagai bukti kehadiran absensi di kelas.

semoga negeriku bisa terbebas dari para tikus-tikus kekuasaan yang selalu mengerat kue-kue kekuasaan demi kepentingannya sendiri, karena tikus bila tidak diberantas akan lebih mudah untuk berkembang dengan pesat menyebarkan generasi2 dengan penuh kebobrokan dan kenistaan...
semoga tikus bisa lenyap dari negeri ini

semoga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar