Saat ini jarum jam menunjukkan waktu 00.03. Mata ini tak jua kunjung terpejam. Tanpa sengaja benak ini teringat sebuah catatan pinggir yang kutulis sewaktu masih berstatus siswa SMK di ebuah SMK di kota Bandung pada 18 September 2005, tepat 4 tahun yang lalu. Sebuah catatan yang kupikir masih sangat relevan dengan kondisi sekelilingku. Catatan itu kutulis di sebuah kamar sumpek di suatu malam pada jam 21.17, yang saat itu tengah ramai-ramainya diperbincangkan rencana pemerintah untuk menaikkan BBm tuk yang kesekian kalinya, yang ramai pula diperbincangkan (saat itu) bagaimana BBM menjadi tiba-tiba langka di tengah derasnya arus penolakan rencana tersebut. Benak ini menjadi terasa gatal untuk kembali mengingat tulisan tersebut karena ku rasa masihlah sama kondisinya dengan sekarang. Tulisan yang mengingatkanku pada sebuah istilah rekaanku dalam imajinasi sederhana seorang anak SMK, “IRONESIA”.
Kira-kira itulah judul catatanku 4 tahun yang lalu. Dengan judul seperti itu, mungkin orang akan sedikit mengira-ngira kalau arti IRONESIA adalah Indonesia yang sedang bertransformasi menjadi sebuah Negara besi. Dimana jika kita dalami, esensi dari makna besi adalah keras, sekeras kepala para petinggi negeri ini dalam menelurkan kebijakan yang tidak bijak, kokoh yang melambangkan keangkuhan para pejabat negeri ini, dan karat senada dengan keadaan Negara ini yang sedang dalam tahapan sekarat karena terus digerogoti para tikus berkerah yang tak lebih hina dari seorang bandit kelas teri. Itu mungkin terminology IROnesia dari seorang tukang besi yang bercita-cita menjadi negarawan.
Namun sebetulnya simple saja, Ironesia tak lebih dari singkatan ‘Ironi di Indonesia’. Ironi? Yup! Indonesia adalah negeri yang penuh dengan keironisan. Banyak hal yang terjadi di negeri ini adalah sesuatu yang ironis sekaligus menyayat hati. Indonesia adalah Negara yang gemah ripah loh jinawi, yang kalo koes plus bilang kolamnya kolam susu, tapi koq rakyatnya masih menderita gizi buruk.
Ada orang yang mencuri 3 buah kakao dengan sigap proses peradilan berjalan cepat dan sigap, sementara ada orang yang merampok duit Negara yang nilainya mungkin setara dengan 3 milyar buah kakao malah dibiarkan lepas begitu saja. Bahkan bukannya berkoordinasi untuk menjerat sang rampok, para penegak hukum malah saling tuding, saling bela, saling tunjuk, bertengkar diantara sesama penegak hukum lainnya sementara sang rampok tertawa bahagia melihat para penangkapnya malah lebih sibuk bertengkar dengan sesamanya.
Ada pula ‘yang tertinggi’ di negeri ini yang ketika nama anaknya terjerat kasus politk uang di Ponorogo dan Pasuruan semua anggota kepolisian dibuat sibuk bahkan sampa menrjunkan tim dari polri untuk mengusut dugaan pencemaran nama baik tersebut, sementara ada ‘tikus milyuner’ yang jelas – jelas menyebut nama ‘yang tertinggi’ dalam percakapannya yang menyangkut mafia peradilan, tapi ‘yang tertinggi’ seolah-olah bungkam dan memaafkan tikus tak tahu diuntung tersebut. Ironis..
Sumber energy di negeri ini sangat melimpah ruah, dari mulai air, ombak, angin, panas bumi, gas, tapi warga masih harus bersabar menunggu pasokan listrik karena sekarang ini masih berlangsung pemadaman listrik bergilir. Bahkan, temanku pun yang sudah susah payah menyiapkan presentasi untuk seminar TA nya, sampai harus gigit jari karena pada saat hari-H nya sang listrik tidak mengalir disebabkan adanya pemadaman listrik begilir.
Ada kabar gembira mengenai peningkatan pemberantasan korupsi di negeri ini, tapi ternyata para penggede malah ketakutan karena KPK menangkap koruptor tanpa pandang bulu. Mereka malah berencana untuk menghabisi KPK karena dikhawatirkan KPK yang katanya superbody itu akan membabat habis pihak-pihak yang brkaitan dengan dirinya. Apa dasar mengatakan KPK sebagai sebuah lembaga yang super body? Tuduhan itu jelas tiada berdasar. Kewenangan KPK tak jauh beda dengan Polisi atau Jaksa. Bahkan ada lembaga lain yang jauh lebih superbody dibandingkan KPK. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) lebih superbody dibandingkan KPK. KPPU mulai dari proses penyidikan sampai putusan, dipegang oleh KPPU. Bukankah yang seperti itulah yang dinamakan superbody? KPK dalam proses nya masih melibatkan pengadilan, berbeda halny dengan KPPU yang sepenuhnya dipegang oleh KPPU. Ironisnya, tidak ada yang mempermasalahkan KPPU. Mungkin anda sendiri tahu jawabannya, kenapa KPPU tidak mengundang perhatian para penggede.
Para pejabat tinggi Negara berencana untuk naik gaji, sementara para buruh pabrik hanya untuk mendapatkan standar gaji yang sesuai dengan stndar hidup layak pun sampai harus mati-matian memperjuangkannya. Ironis sekali.
Ada banyak lagi ironi di negeri ini, hanya saja saya takut yang saya tulis nantinya malah menumbuhkan ketidakcintaan terhadap negeri ini. Bukan maksud saya untuk mengurangi kecintaan anda terhadap bangsa ini dengan menujukkan beberapa ironi-ironi tersebut, yang saya maksudkan adalah sebagai pengingat bahwa betapa banyaknya pekerjaan yang mesti kita lakukan untuk kemajuan negeri ini. Ada begitu banyak hal yang patut untuk kita perbaiki. Dan salah satunya adalah dengan menunjukkan bahwa kita saat ini sedang tidak baik baik saja. Karena kebanyakan dari kita beranggapan bahwa kita baik-baik saja, sementara pada realitasnya kita sedang tidak baik baik saja.
Yah, memang beginilah system demokrasi, apa yang dibuat oleh manusia dalam bentuk regulasi-regulasi memang ga bakalan sesuai dengan manusia. Yang paling sesuai adalah system yang dibuat oleh yang menciptakan manusia. Karena Dia lah yang menciptakan kita, sehingga lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita.
Ironesia, sebuah kata dari benak seorang anak SMK yang mungkin terlalu sok tahu, padahal dia ga lebih dari sekedar anak kemarin sore yang tidaklah terlalu banyak tahu. Tapi walaupun begitu, dia masih punya nurani.
Ironesia, semoga tidak terjadi…
skip to main |
skip to sidebar
Sebuah jurnal pribadi, catatan tentang pemikiran yang berkecamuk dalam menanggapi fenomena sosial masyarakat di sekitarnya
Jumat, 18 Desember 2009
der Dunkelheit's Fan Box
der Dunkelheit on Facebook
KafeBlogger.com
Mengenai Saya
- iman krisman
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
- orang yang tidak oportunis, optimis, dan tidak borjuis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar