Minggu, 27 Desember 2009

Buah Sirsak, Pembunuh Kanker

Soursop, buah dari pohon Graviola adalah pembunuh alami sel kanker yang ajaib dengan 10.000 kali lebih kuat dari pada terapi kemo.
Tapi kenapa kita tidak tahu?

Karena salah satu perusahaan Dunia merahasiakan penemuan riset mengenai hal ini se-rapat2nya, mereka ingin agar dana riset yang dikeluarkan sangat besar, selama bertahun-tahun, dapat kembali lebih dulu plus keuntungan berlimpah dengan cara membuat pohon Graviola Sintetis sebagai bahan baku obat dan obatnya djual kepasar Dunia.


Memprihatinkan, beberapa orang meninggal sia2, mengenaskan, karena keganasan kanker, sedangkan perusahaan raksasa, pembuat obat dengan omzet milyaran dollar menutup rapat2 rahasia keajaiban pohon Graviola ini.

Pohonnya rendah, di Brazil dinamai “Graviola”, di Spanyol “Guanabana” bahasa Inggrisnya “Soursop”. Di Indonesia, ya buah Sirsak. Buahnya agak besar, kulitnya berduri lunak, daging buah berwarna putih, rasanya manis2 kecut/asam, dimakan dengan cara membuka kulitnya atau dibuat jus.
[]

Khasiat dari buah sirsak ini memberikan effek anti tumor/kanker yang sangat kuat, dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker. Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri,anti jamur(fungi), effektive melawan berbagai jenis parasit/cacing, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali sistim syaraf yang kurang baik.

Salah satu contoh betapa pentingnya keberadaan Health Sciences Institute bagi orang2 Amerika adalah Institute ini membuka tabir rahasia buah ajaib ini. Fakta yang mencengangkan adalah: Jauh dipedalaman hutan Amazon, tumbuh “pohon ajaib”, yang akan merubah cara berpikir anda, dokter anda, dan dunia mengenai proses penyembuhan kanker dan harapan untuk bertahan hidup. Tidak ada yang bisa menjanjikan lebih dari hal ini, untuk masa2 yang akan datang.



[]



Riset membuktikan “pohon ajaib” dan buahnya ini bisa :

ü Menyerang sel kanker dengan aman dan effektive secara alami, TANPA rasa mual, berat badan turun, rambut rontok, seperti yang terjadi pada terapi kemo.
ü Melindungi sistim kekebalan tubuh dan mencegah dari infeksi yang mematikan.
ü Pasien merasakan lebih kuat, lebih sehat selama proses perawatan / penyembuhan.
ü Energi meningkat dan penampilan phisik membaik.

Sumber berita sangat mengejutkan ini berasal dari salah satu pabrik obat terbesar di Amerika. Buah Graviola di-test di lebih dari 20 Laboratorium, sejak tahun 1970-an sampai beberapa tahun berikutnya. Hasil Test dari ekstrak (sari) buah ini adalah :

ü Secara effektive memilih target dan membunuh sel jahat dari 12 type kanker yang berbeda, diantaranya kanker : Usus Besar, Payu Dara, Prostat, Paru2, dan Pankreas.
ü Daya kerjanya 10.000 kali lebih kuat dalam memperlambat pertumbuhan sel kanker dibandingkan dengan Adriamycin dan Terapi Kemo yang biasa digunakan!
ü Tidak seperti terapi kemo, sari buah ini secara selective hanya memburu dan membunuh sel2 jahat dan TIDAK membahayakan/ membunuh sel2 sehat!

Riset telah dilakukan secara ekstensive pada pohon “ajaib” ini,selama bertahun-tahun tapi kenapa kita tidak tahu apa2 mengenai hal ini? Jawabnya adalah : Begitu mudah kesehatan kita, kehidupan kita, dikendalikan oleh yang memiliki uang dan kekuasaan!

[]

Salah satu perusahaan obat terbesar di Amerika dengan omzet milyaran dollar melakukan riset luar biasa pada pohon Graviola yang tumbuh dihutan Amazon ini. Ternyata beberapa bagian dari pohon ini : kulit kayu, akar, daun, daging buah dan bijinya, selama berabad-abad menjadi obat bagi suku Indian di Amerika Selatan untuk menyembuhkan : sakit jantung, asma, masalah liver (hati) dan rematik. Dengan bukti2 ilmiah yang minim, perusahaan mengucurkan Dana dan Sumber Daya Manusia yang sangat besar guna melakukan riset dan aneka test. Hasilnya sangat mencengangkan. Graviola secara ilmiah terbukti sebagai mesin pembunuh sel kanker!

Tapi… kisah Graviola hampir berakhir disini.Kenapa?

Dibawah Undang2 Federal, sumber bahan alami untuk obat DILARANG / TIDAK BISA dipatentkan.

Perusahaan menghadapi masalah besar, berusaha sekuat tenaga dengan biaya sangat besar untuk membuat sinthesa/kloning dari Graviola ini agar bisa dipatentkan sehingga dana yang dikeluarkan untuk Riset dan Aneka Test bisa kembali, dan bahkan meraup keuntungan besar. Tapi usaha ini tidak berhasil. Graviola tidak bisa di-kloning. Perusaha an gigit jari setelah mengeluarkan dana milyaran dollar untuk Riset dan Aneka Test.

Ketika mimpi untuk mendapatkan keuntungan besar ber-angsur2 memudar, kegiatan riset dan test juga berhenti. Lebih parah lagi, perusahaan menutup proyek ini dan memutuskan untuk TIDAK mempublikasikan hasil riset ini.

Beruntunglah, ada salah seorang Ilmuwan dari Team Riset t id ak tega melihat kekejaman ini terjadi.Dengan mengorbankan karirnya, dia menghubungi sebuah perusahaan yang biasa mengumpulkan bahan2 alami dari hutan Amazon untuk pembuatan obat.

Ketika para pakar riset dari Health Sciences Institute mendengar berita keajaiban Graviola, mereka mulai melakukan riset. Hasilnya sangat mengejutkan. Graviola terbukti sebagai pohon pembunuh sel kanker yang effektive.

The National Cancer Institute mulai melakukan riset ilmiah yang pertama pada tahun 1976. Hasilnya membuktikan bahwa daun dan batang kayu Graviola mampu menyerang dan menghancurkan sel2 jahat kanker. Sayangnya hasil ini hanya untuk keperluan intern dan t id ak dipublikasikan.

Sejak 1976, Graviola telah terbukti sebagai pembunuh sel kanker yang luar biasa pada uji coba yang dilakukan oleh 20 Laboratorium Independence yang berbeda.

[]


Suatu studi yang dipublikasikan oleh the Journal of Natural Products menyatakan bahwa studi yang dilakukan oleh Catholic University di Korea Selatan, menyebutkan bahwa salah satu unsur kimia yang terkandung di dalam Graviola,mampu memilih, membedakan dan membunuh sel kanker Usus Besar dengan 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan Adriamycin dan Terapi Kemo!

Penemuan yang paling mencolok dari study Catholic University ini adalah: Graviola bisa menyeleksi memillih dan membunuh hanya sel jahat kanker, sedangkan sel yang sehat tidak tersentuh/terganggu . Graviola t id ak seperti terapi kemo yang tidak bisa membedakan sel kanker dan sel sehat, maka sel2 reproduksi (seperti lambung dan rambut) dibunuh habis oleh Terapi Kemo, sehingga timbul effek negative: rasa mual dan rambut rontok.

Sebuah studi di Purdue University membuktikan bahwa daun Graviola mampu membunuh sel kanker secara effektive, terutama sel kanker: Prostat, Pankreas, dan Paru2.

[]
Setelah selama kurang lebih 7 tahun tidak ada berita mengenai Graviola, akhirnya berita keajaiban ini pecah juga, melalui informasi dari Lembaga2 tsb.diatas.

Pasokan terbatas ekstrak Graviola yang di budi dayakan dan dipanen oleh orang2 pribumi Brazil , kini bisa diperoleh di Amerika.

[]

Kisah lengkap tentang Graviola, dimana memperolehnya, dan bagaimana cara memanfaatkannya, dapat dijumpai dalam Beyond Chemotherapy: New Cancer Killers, Safe as Mother’s milk, sebagai free special bonus terbitan Health Sciences Institute.


Sekarang anda tahu manfaat buah sirsak yang luar biasa ini. Rasanya manis2 kecut menyegarkan. Buah alami 100% tanpa efek samping apapun.Sebar luaskan kabar baik ini kepada keluarga, saudara, sahabat,dan teman yang anda kasihi.

Jembatan Terunik di Dunia

1. Jembatan Banpo (Korea Selatan) : Jembatan Air Mancur

1
Tanggal 9 September 2008, Jembatan Banpo di Seoul (Korea Selatan) menjalani operasi facelift besar-besaran: sebuah air mancur 10.000 selang yang membentang di kedua pinggirnya. Setelah dipasang, jembatan ini berubah menjadi atraksi turis besar, ketika jembatan ini menembakkan 190 ton air per menit menggunakan air sungai di bawahnya.


2. Jembatan Millau (Perancis): Jembatan Tertinggi di Dunia
2
Setinggi 1.125 kaki di atas Lembah Tarn di selatan Perancis, mengarungi Jembatan Millau bisa dikatakan seperti terbang. Karya Foster & Partners ini sedikit lebih tinggi dari Menara Eiffel, memakan tiga tahun untuk pembangunan dan dibuka pada umum tahun 2004. Selain memberikan pemandangan lembah di bawahnya, ketika awan terbentuk di bawah jembatan, Millau bukanlah rute bagi orang yang takut ketinggian! Jembatan Millau memiliki panjang total 8.071 kaki dengan rentangan tunggal terpanjang 1.122 kaki dan kejelasan maksimum di bawah adalah 886 kaki; jadi jembatan ini sangat indah dalam bentuk miniatur ataupun bentuk aslinya. Dek jembatan ditopang oleh 7 pilon dan berbobot 36.000 ton. 7 menara, masing-masing setinggi 292 kaki dan berbobot 700 ton, dipasang ke pilon penopang.



3. Henderson Waves (Singapura): Jembatan Pejalan Kaki Terindah

3
4
Pada ketinggian 36 meter atau 12 tingkat dari permukaan jalan, jembatan ini merupakan jembatan pejalan kaki tertinggi di Singapura. Jembatan sepanjang 300 meter ini menghubungkan taman di Mount Faber dan Telok Blangah Hill.


4. Jembatan Teluk Hangzhou (Cina): Jembatan Lintas Lautan Terpanjang di Dunia
5
Melintasi Teluk Hangzhou berdirilah jembatan lintas lautan terpanjang di dunia, dengan panjang 35,673 kilometer (22 mil) dengan enam lajur jalan tol dua arah. Jembatan ini dibangun untuk menangani kemacetan lalu lintas di wilayah yang sedang berkembang pesat, memotong waktu tempuh antara Shanghai dan Ningbo dari empat jam menjadi 2,5 jam.



5. Rolling Bridge (Britania Raya): Jembatan yang dapat menggulung sendiri
Dirancang oleh Heatherwick Studio, Rolling Bridge pemenang penghargaan ini terletak di Paddington Basin, London. Daripada menggunakan mekanisme jembatan terbuka konvensional, yang terdiri dari elemen rigid tunggal yang naik untuk membolehkan kapal lewat, Rolling Bridge menggulung diri hingga dua ujungnya bertemu. Ketika dalam posisi horizontal, jembatan ini merupakan jembatan pejalan kaki besi dan kayu normal; terbuka penuh, jembatan ini membentuk lingkaran di satu sisi yang berbeda dari posisi lurusnya.
6
Dua belas meter panjangnya, jembatan ini dibuat oleh delapan bagian besi dan kayu, dan dibuat melengkung oleh tenaga hidrolik yang dipasang di handrail setiap bagian.


6. Jembatan Oliveira (Brazil): Jembatan kabel berbentuk X pertama di dunia

7
Jembatan Octavio Frias de Oliveira yang melintasi Sungai Pinheiros di São Paulo, Brazil dibuka bulan Mei 2008. Setinggi 138 meter (450 kaki), dan menghubungkan Marginal Pinheiros dengan Jornalista Roberto Marinho Avenue. Desainnya unik dengan 2 dek melengkung melintas satu sama lain melalui menara penopang berbentuk X.



7. Wind and Rain Bridge (Cina): Jembatan Bangsa Dong

8
9
Wind and Rain Bridge adalah simbol arsitektor bangsa minoritas Dong. Wind and Rain Bridhe di Diping adalah yang terbesar dalam jenisnya di Provinsi Guizhou, dimana komunitas Dong terbesar Cina menetap. Jembatan ini sepanjang 50 meter dan pertama dibangun tahun 1894 selama Dinasti Qing 100 tahun yang lalu. Tetapi, struktur aslinya terbakar dalam kebakaran besar 1959 dan yang dilihat pengunjung saat ini adalah pembuatan ulangnya yang selesai tahun 1964.
Merupakan arsitektur kayu murni yang terdiri dari pilar, purlin dan baluster dalam berbagai ukuran dan bentuk. Badan jembatan terbagi menjadi tiga bagian, yang terbesar di tengah berbentuk menara drum Cina tradisional. Pilaster dan eave jembatan dihiasi dengan bunga dan pahatan dan jembatan ini sangat unik.



8. Tower Bridge (Britania Raya): Jembatan Victorian Paling Terkenal dan Terindah
10
11
Selesai tahun 1894 oleh Horace Jones dan Wolfe Barry. Tower Bridge (dinamai sesuai dua menara mencolok setinggi 141 kaki dan Tower of London di dekatnya) adalah salah satu markah tanah terkenal di London dan salah satu yang terindah di dunia. Jembatan sepanjang 800 kaki ini memiliki spasi 28 kaki bila tertutup tapi terbuka di tengahnya hingga mencapai 140 kaki yang membolehkan kapal berlayar di Thames. Di hari-hari dimana barang dipindahkan melalui laut daripada udara jembatan ini dinaikkan sekitar 50 kali setiap harinya. Tower Bridge menggunakan 432 pekerja yang membangunnya selama 8 tahun. Pada waktu itu mereka menenggelamkan 70.000 ton beton ke dalam 2 pier besar, menempatkan 2 struktur penopang ke tempatnya yang masing-masing berbobot 1.000 ton dan menghiasi seluruh jembatan dengan batu Portland dan granit Cornish untuk menutupi 11.000 ton besi di bawahnya.


9. Jembatan Air Magdeburg (Jerman): Jembatan Air Terbesar di Eropa

12
13
Jembatan Air Magdeburg menghubungkan bekas Jerman Timur dan Barat di Sungai Elbe, dan dibangun sebagai bagian dari proyek penyatuan kembali Jerman. Sepanjang 1 km, jembatan air senilai 500 juta euro ini membolehkan kapal angkut sungai menghindari kanal panjang yang padat di sepanjang Elbe. Pengapalan sering terhadang di jembatan ini bila tanda air sungai berada di tingkat terendah.



10. Ponte Vecchio (Italia): Jembatan Tertua dan Terkenal

14
15
Ponte Vecchio di Florence adalah salah satu atraksi turis terkenal di Italia, dan dianggap sebagai jembatan lengkung batu tertua di Eropa, meskipun banyak bagian yang lebih tua. Sebenarnya dibangun dari kayu hingga akhirnya dihancurkan oleh banjir tahun 1333, dan dua belas tahun kemudian jembatan dibangun kembali menggunakan batu. Terkenal karena banyak pertokoan, jembatan ini merumahkan setiap orang mulai pedagang dan tukang daging Abad Pertengahan hingga toko cinderamata dan penjual karya seni.

Kamis, 24 Desember 2009

tahun baru semangat baru?? harus..!!

2009 tinggal menghitung hari berganti menjadi 2010. Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2009 dimana tahun tersebut adalah tahun yang sangat dramatis bagi bangsa ini. Pada tahun itu, kita banyak disuguhi adegan sekaligus dagelan yang terkadang membuat sebagian orang bercucuran air mata, terkadang membuat sebagian orang tertawa senang dengan kemenangan yang diraihnya, ada pula sebagian orang yang dibuat menangis bercucuran air mata akibat kesengsaraan yang menimpanya, ada lagi sebagian orang yang terpingkal-pingkal menonton adegan dagelan drama kehidupan yang sebetulnya tidak patut untuk ditertawakan, ada lagi sebagian orang yang merasa shock karena ‘katempuhan’ kebijakan yang ditempuhnya ternyata berbuntut sangat panjang.
Layaklah tahun 2009 dinamakan sebagai tahun drama. Mengapa? Karena memang ada begitu banyak efek-efek dramatis yang terjadi di tahun ini layaknya panggung akting kolosal yang pemainnya terdiri dari begitu banyak pemain yang terangkum dalam suatu drama kehidupan. Ada drama yang mengharu biru, ada drama yang menjengkelkan, ada drama yang membahagiakan, ada drama yang membuat geli, ada pula drama yang penuh kepura-puraan. Namun satu hal yang pasti, drama-drama tersebut endingnya belum bisa diketahui walaupun tahun drama tersebut tinggal seminggu lagi. Apakah endingnya sad ending? Atau happy ending?? Tak ada yang tahu, karena yang tahu masa depan, bukanlah mama loreng ataupun ki joko bego, tapi hanya Dia Yang Maha Tahu yang mengetahui ending dari drama kehidupan di bumi pertiwi ini.
Diantara sekian banyak adegan-adegan dalam drama Indonesia edisi 2009 ini, ada beberapa episode yang menempati box office mass media, karena memang saking seringnya nongkrong di pemberitaan mass media.
Ada kasus Prita yang begitu menguras air mata rakyat ini karena ketidakadilan yang dideritanya atas gugatan sebuah korporasi kesehatan. Undang-undang yang digunakan untuk menjerat Prita adalah UU ITE, yang memasung kebebasan berpendapat di media elektronik. Dukungan pun berbondong-bondong datang dari berbagai kalangan yang menolak digunakannya pasal dalam UU ITE tsb, karena memang pasal tsb adalah pasal karet. Sementara ketika ada Luna Maya yang menceritakan curhatannya tentang kelakuan awak infotainment thd privasinya lewat social networking Twitter, para wartawan justru scr berbondong-bondong pula menggugat Luna Maya atas tulisannya di Twitter dengan pasal berlapis salah satunya adalah pasal UU ITE tsb. Ini adalah salah satu adegan konyol yang diperlihatkan sebagian orang di negeri ini. Koq di satu sisi mereka menolak UU ITE, tapi di sisi lain mereka menggunakan pula untuk menggugat orang. Ini kan aneh..! orang sunda bilang hal yang seperti itu sbg sesuatu yang ‘dipoyok dilebok’. Di satu sisi mereka menolak, tapi di sisi lain mereka pun menggunakannya. Suatu hal yang ironis.
Episode berikutnya yaitu Depkominfo yang saat ini tengah menggodok Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur tentang penyadapan. Padahal esensi dari dibuatnya PP tsb adalah untuk membatasi ruang gerak KPK dalam melakukan penyadapan koruptor. Nah yang menjadi menarik adalah, KPK adalah suatu lembaga negara independen yang TIDAK bisa diatur oleh peraturan sekelas PP, kalo mau mengatur ya.. harus melalui suatu proses legislasi di DPR sehingga menghasilkan UU yang mengatur tentang penyadapan. Jadinya kan aneh,, PP itu tingkatannya dibawah UU, dan KPK itu hanya bisa diatur dengan UU,, jadi tujuan dibuatnya PP untuk apa dong?? Padahal dengan adanya penyadapan oleh KPK kita menjadi tahu bagaimana bobroknya wajah peradilan di negeri ini. Jika tidak ada rekaman KPK, kita tidak akan tahu ada orang orang seperti Anggodo, Urip, Artalyta, yang bisa memainkan hukum dengan tangannya sendiri. Ketika KPK menyadap kabareskrim, banyak bihak2 yang dengan angkuhnya mempertanyakan kewenangan KPK dalam penyadapan tsb. Anggodo pun mempertanyakan pertanyaan yang sama, apa kewenangan KPK terhadap penyadapan dirinya. Padahal disini jelas, KPK tengah mengusut kasus dugaan korupsi Masaro. Jadi KPK sangat berwenang sekali. Tapi, ketika rekaman HP Nasrudin diputar di pengadilan, tidak banyak yang mempertanyakan kewenangan nasrudin menyuruh rani juliani untuk menyadap pembicaraan antasari dan rani tersebut. Apa kewenangan nasrudin disana? Padahal jelas disana, Nasrudin berupaya untuk menjebak antasari dengan menyuruh Rani supaya tetap menghidupkan handphonenya ketika pembicaraan rani dan anasari berlangsung. Nah, apakah ada yang mempertanyakan mengapa nasrudin bisa dengan bebasnya menyadap ketua KPK?? Jawabannya tidak ada.
Episode yang lainnya yaitu rekomendasi dari Pansus Century di DPR yang menghasilkan imbauan kpd Presiden supaya menonaktifkan wapres Boediono dan menkeu sri mulyani. Nah yang aneh, di dalam konstitusi kita tidak dikenal adanya istilah penonaktifan wapres dan menkeu jika tidak ada dakwaan dari pengadilan. Seperti kita ketahui bersama, posisi wapres dan menkeu sekarang ini baru sekedar ‘dicurigai’, belum pada tahap sbg ‘terdakwa’, jadi, himbauan tsb ya tiada guna. Apakah para anggota dewan yang terhormat tersebut tidak membaca UU terlebih dahulu sebelum menelurkan sebuah himbauan? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Hanya dari sini kita bisa membaca scr sekilas sejauh mana kemampuan para legislator tsb dlm memahami suatu produk hukum. Berkualitaskah? Anda sendiri mungkin sudah bisa menjawabnya.
Episode yang sangat menarik adalah episode ‘kriminalisasi terhadap KPK’, wah... episode ini begitu panjang dan begitu menarik ceritanya. Sampai – sampai melibatkan dunia reptil dalam episode tersebut. Ada sang cicak, dan ada pula sang buaya. Kepolisian yang pada 7 bulan yg lalu mendapatkan pujian yang begitu derasnya karena telah berhasil menangkap gembong teroris Nurdin M Top, harus menelan pil pahit yang sangat banyak ketika keborokannya terungkap di meja MK lewat pemutaran rekaman Anggodo. Pil pahit berkali kali menimpa polisi ketika diawali oleh ocehan Susno lewat perkataan yang sangat fenomenal, ‘cicak – buaya’, berlanjut dengan penahanan Bibit – chandra yang menuai berbagai kecaman dari berbagai kalangan, hingga pemecatan mmm... maaf .. penonaktifan susno duaji sebagai kabareskrim. Drama semakin seru ketika kepolisian membantah bahwa penonaktifan tsb akibat kasus century, polri berkilah itu sebagai sebuah proses rutin pergantian perwira polri. Padahal secara tersirat bisa dilihat, penonaktifan tsb sbg salah satu upaya polri dalam menyelamatkan harga diri institusi tsb. ( ada sedikit pesan untuk Pak Susno, lain kali kalo mau telfon2an dgn anggodo jgan pake ‘duaji’, pakenya yang ‘triji’, jadi nggak kesadap sama KPK ).
Drama yang sangat menguras air mata adalah ketika seorang Minah dan seorang Manisah yang dihukum penjara akibat perbuatan yang dilakukan mereka yang disebut oleh pengadilan sebagai suatu pencurian. Akibat perbuatannya itu, mereka mesti menerima vonis penjara. Tapi ketika ada Eddy Tansil yang telah buron merampok uang negara sebesar 1,3 trilyun apakah ada upaya untuk menangkapnya? Atau ketika Century menerima ‘bantuan talangan’ 6,7 trilyun apakah pengadilan atau para penegak hukum berani mengatakan itu sebagai sebuah pencurian?? Kita tunggu bersama, bagaimana ending dari drama yang jomplang ini, ketika hukum hanya berani menyeret yang lemah tapi tidak bagi yang kuat, tidak bagi mereka yang dekat dengan kekuasaan, dan tidak bagi mereka yang memegang tampuk kekuasaan.
22 desember ini adalah banyak orang mengatakannya sebagai hari ibu. Sudah sepantasnya lah kita menghormati beliau dan menempatkannya dalam posisi yang terhormat dalam hidup kita. Sudah sepantasnya pula kita berbakti dan mengabdikan hidup kita untuk beliau (i luv u mom). Begitu pun dengan ibu pertiwi. Sudah sepantasnya lah kita mendarmabaktikan hidup kita untuk kemajuan ibu pertiwi, supaya ibu pertiwi tidak selalu dirundung duka lara, supaya senyum bisa terkembang di wajahnya yang elok yang saat ini tengah bopeng akibat kelakuan tikus tikus tak bernurani yang tak mengenal rasa kemanusiaan. Yang ingin saya ingatkan adalah, 22 desember merupakan momentum tepat 2 bulan SBY memimpin negeri ini dalam paruh kedua pemerintahannya. Sulit untuk tidak mengatakan bahwa dua bulan terakhir ini Indonesa hanya dipenuhi oleh kegaduhan dan intrik politik. Tidak ada optimisme yang telihat dalam dua bulan pemerintahan yang telah dilalui. Dalam kondisi yang seperti ini, mungkin terkadang SBY merindukan sosok JK yang jika dalam kondisi yang seperti sekarang JK akan tampil mengangkat wibawa pemerintah. Tidak begitu dengan Boediono yang terlihat pasif. Ketika rencana menaikkan BBM bergulis pada era pemerintahan yang lalu, JK lah yang berani mengundang pihak oposan dan para wartawan ke istananya untuk berdebat keras mengenai alasan kenaikan BBM hingga ada dialog yang positif sehingga perbedaan pemikiran bisa diluruskan. Berbeda dengan kondisi sekarang yang setiap permasalahan malah dibiarkan menggelinding menjadi bola panas yang menggelinding secara liar tak tekendali. Ada begitu banyak isu, ada begitu banyak spekulasi yang berkembang karena ketidak siapan pemerintah dalam mengadakan dialog terbuka. Ketika semuanya dibiarkan tidak terkendali bukankah malah menimbulkan keresahan di masyarakat yang pada akhirnya akan menimbulkan chaos di suatu hari nanti??
Dua bulan masa pemerintahan sudah sepantasnya lah pemerintah memberikan beberapa kemajuan2, bukannya memberikan kekisruhan politik dan intrik2 politik. Tanpa disurvei sekali pun, popularitas SBY saat ini pasti turun. Dua bulan ini pernafasan rakyat hanya dipenuhi oleh udara kotor yang berasal dari keributan politik. Seminggu lagi kita menghadapi udara baru 2010 sudah seharusnya kita tersadarkan untuk membalik semua keadaan yang terjadi sekarang ini menjadi keadaan yang lebih baik. Kita melangkah menuju hari esok yang lebih baik dengan tetap sesekali melihat ke belakang agar masa yang telah lalu dijadikan bahan pelajaran untuk perbaikan di masa datang. Kita tidak ingin kejadian ditimpuknya Berlusconi oleh seorang warganya yang mengakibatkan dua giginya patah terjadi disini. Kita tidak megharapkan pemimpin seperti Berusconi yang lebih mementingkan operasi pelastik dan penyambungan rambut agar tetap terlihat segar di depan rakyatnya ketimbang terlihat lelah akibat kelelahan mengurus rakyatnya. Kita tidak menginginkan pemimpin yang hanya bisa menjual pesona ragawi semata. Kita menginginkan pahlawan nasional yang bisa menjadi pemimpin dunia, bukannya pemimpin dunia yang dijadikan pahlawan nasioanal, bahkan hingga dibuatkan patungnya di salah satu taman di jakarta sana.
Tahun baru.. harapan baru.. dan semangat baru.., tapi tidak sampai harus ada presiden baru bukan??

Selamat tahun baru 2010..

Jumat, 18 Desember 2009

Sedikit Tentang Kekuasaan

“Hari tanpa Berlusconi”, pekikan tersebut saat ini tengah ramai diteriakkan di Italia sana. Rakyat Italia sudah muak dengan segala macam tingkah PM Italia yang sudah memasuki usia senja tsb. Mulai dari kasus korupsi hingga skandal seks yang meibatkan perempuan2 muda di bawah umur. Mengerikan bagi Berlusconi ketika rakyatnya menolak kepemimpinan dirinya. Suatu tamparan yang sangat keras ketika pemimpin mendapatkan penolakan dari yang dipimpinnya. Hal yang sama juga tengah terjadi pada mantan PM Thailand, Thaksin Sinawatra. Semasa memimpin Thailand Thaksin sempat mendekati rakyat miskin sehingga dia sangat dekat dengan rakyat dan meninggalkan kesan tersendiri di hati rakyat kecil, namun seiring berjalannya waktu, Thaksin pun mulai lupa diri dengan kekuasaannya, rakyat kelas menengah yang lebih paham dengan apa yang terjadi mulai tidak percaya dengan Thaksin, dan mereka pun sama halnya dengan Italia, menolak Thaksin. Parahnya lagi, rakyat kecil yang pernah didekati Thaksin sangat mengidolakan Thaksin, akibatnya bntrokan massa antar kelompok masyarakat pun menjadi pecah di Thailand, sangat mengerikan ketika sesama rakyat suatu negara harus bentrok demi pemimpin yang korup seperti Thaksin. Thaksin pun mendapatkan penolakan yang sama, seperti halnya Berlusconi. Bagaimana dengan negara kita? Kita pun pernah mengalami hal yang demikian, yaitu ketika Soeharto mesti dilengserkan oleh rakyatnya sendiri. Ada benang merah yang sama yang mendasari terjadinya hal-hal yang demikian, yaitu ketika rakyat dilupakan, yaitu ketika ketidakadilan merajalela, yaitu ketika pemerintah menindas yang diperintahnya. Ketika keadaan menjadi demikian, bersiap-siaplah suatu rezim untuk menghadapi keruntuhannya, memasuki lubang kematian yang telah dibuatnya sendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menyadari kesalahan masa lalu. Kita pernah mendapati kejadian bagaimana tragisnya akhir pemerintahan Soekarno yang mesti mengalami pengasingan oleh bangsanya sendiri akibat soekarno mulai lupa diri dan terjebak dalam tingkah politik yang dibuatnya, sehingga beliau mesti menghadapi kudeta bawahannya sendiri, Soeharto. Kita pun pernah mendapati bagaimana tragisnya kejadian lengsernya soeharto yang dilengserkan oleh rakyatnya sendiri akibat kebijakan pemerintah yang tidak bijak. Lalu apakah kita akan lagi mengalami hal yang sama? Satu hal yang pasti, kejatuhan suatu rezim terjadi ketika ketidakadilan hukum terjadi dan mafia peradilan bergentayangan membayangi wajah peradilan di suatu negeri.

Ketika Prita mesti membayar denda 204 juta terhadap suatu korporasi kesehatan karena dia menginginkan haknya sbg seorang pasien, ketika ibu minah mesti di vonis 1,5 bulan penjara akibat 3 buah kakao yang diambilnya dari korporasi perkebunan dan buah itu pun telah dikembalikan kpd mandor perkebunan tsb, ketika Manisah terjerat hukuman penjara akibat perbuatannya memunguti kapuk yang telah jatuh dari sebuah perkebunan kapuk, ketika seorang supir Badan Narkotika Nasional yang memiliki sebutir ekstasi harus dipenjara selama 2 tahun penjara sementara seorang jaksa yang ketahuan memiliki 300 butir ekstasi hanya dihukum 1,5 tahun penjara dipotong masa tahanan, ketika edy Tansil yang telah mengambil 1,3 trilyun uang negara dalam skandal perbankan masih bebas berkeliaran buron hingga 13 tahun, ketika anak jalanan, pengemis, orang miskin dan rakyat jelata ditambah lagi dari kalangan menengah bersatu padu mendukung Prita mengumpulkan uang receh untuk menyindir pelecehan keadilan hukum yang tengah terjadi di negeri ini. Ketika pelecehan disindir dengan perecehan. ketika polisi salah tangkap seorang sejarawan UI yang dianggap pencopet dan langsung memukulnya tanpa ampun. Ketika yang lain, ketika, yang lain, dan ketika ketidakadilan yang lain masih terjadi di negeri ini, akankah rezim bisa bertahan lama? Bahkan kasus Prita ini sampai-sampai mencuat ke kancah internasional. Tidak kurang dari salah satu media asing, International Herald Tribune, memberitakan kasus Prita secara mencolok di halaman SATU. Bukankah itu merupakan suatu pukulan telak untuk negara ini?? Ketika ketidakadilan dipertontonkan di muka internasional. Tidakkah para penegak hukum di negeri ini memiliki rasa malu?

Ada makna khusus ketika hari antikorupsi sedunia didekatkan dengan hari HAM sedunia yang hanya terpaut satu hari. Maknanya adalah bahwa korupsi erat kaitannya dengan pelanggaran HAM banyak orang. Bahwa dengan korupsi, setengah dari total negeri ini tidak bisa menikmati indahnya pendidikan, tidak bisa menikmati kesejahteraan hidup sehingga banyak orang d negeri ini yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Namun beruntunglah negeri ini masih dianugrahi penduduk yang memiliki empati yang sangat tinggi, ketika orang-orang seperti Minah, Manisah, dan Prita ditindas oleh yang tak kasat mata di negeri ini, masih banyak rakyat yang peduli dengan nasib mereka. Empati berakar dari kata emphateia yang berarti “turut merasakan”. Awalnya digunakan para teoritikus estetika untuk kemampuan memaham pengalaman subyektif orang lain. Namun sayangnya rasa empati hanya dimiliki oleh rakyt jelata, tidak dimiliki oleh para petinggi di negeri ini. Adanya empati keadilan bisa tercapai. Keadilan sesungguhnya adalah salah satu di antara sekian banyak atribut Tuhan yang sangat indah. Manusialah yang diberi amanat untuk menjaganya. Ketika amanat tidak dijalankan, masihkan Tuhan mempercayai makhlukNya?

Hukum pada mulanya bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial dan mencegah kezaliman suatu bangsa atas bangsa lain, atau atas seseorang atas orang lain. Namun ketika hukum hanya berlaku bagi mereka yang lemah dan tidak berlaku bagi mereka yang kuat, akankah tercipta suatu keadilan yang berkemanusiaan? Ada suatu ketimpangan sosial dari negeri ini karena ketidakberpihakan pemerintah kepada mereka yang lemah.
Suatu hari, Konfusius mendapati seorang perempuan tengah meratap di makam putranya. Sebelum itu, ayah mertuanya tewas, disusul dengan suaminya. Semua tewas dengan cara yang sama. Diterkam harimau. Sang Konfusius bertanya mengapa ia masih mau tinggal di tempat itu. Perempuan itu menjawab, “Di sini tidak ada pemerintah yang menindas”. Sebagian pembaca notes saya mungkin bisa menarik kesimpulan dari cerita tersebut,.

Kembali ke cerita awal pada notes ini, Berlusconi tinggal menunggu kehancurannya, Thaksin sudah lebih dulu dilengserkan, lalu kini apa yang terjadi dengan negeri ini. Tampaknya SBY pun merasakan hal yang sama, dengan perkataannya di sejumlah media massa mengena kekhawatirannya terhadap demo hari antikorupsi yang disinyalir digunakan untuk menggulingkan kekuasaannya yang sah. SBY memang sering berkeluh kesah terhadap rakyat yang belum terbukti kekhawatirannya. Demo hari anti korupsi telah usai digelar, dan apakah kekhawatirannya terbukti? Ternyata adem adem aja tuh.. bukan hanya sekali ini saja sang presiden berkeluh kesah terhadap rakyatnya, ketika bom meledak di Hotel JW Mariott dan Ritz Carlton pada pertengahan Juli 2009, SBY mengatakan “Saya dijadikan sasaran tembak; ini data intelijen; lihat ini fotonya; ini fakta, bukan gosip”. Padahal kemudian terbukti foto itu adalah foto ketika menjelang Pemilu presiden 2004 kelompok teroris menjadikan para kandidat presiden dan wapres (bukan hanya SBY) sebagai sasaran tembak. Sering kali beliau berkeluh kesah kepada rakyatnya, tapi rakyat dengan sabar tidak berkeluh kesah kepada beliau walaupun kehidupan rakyat semakin sulit. Seorang pemimpin bangsa sepatutnya memberikan rasa aman kepada rakyatnya dan bukan membuat rakyat gundah dan ketakutan. Pantaskah jika untuk menghadapi demonstrasi damai 9 Desember 09 pasukan marinir siaga 1 dan digelar di sekitar gedung KPK, Bundaran HI, Monas, dan Istana?

Teringat benak ini dengan pesan Soe Hok Gie 36 tahun yang lalu yang kiranya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Hari ini aku lihat kembali wajah-wajah halus yang keras... Dan bercita-cita, menggulingkan tiran; Aku mengenali mereka; Yang tanpa tentara; Mau berperang melawan diktator... Dan yang tanpa uang, mau memberantas korupsi; Kawan-kawan; Kuberikan padamu cintaku; Dan maukah kau berjabat tangan... Selalu dalam hidup ini? (Soe Hok Gie, “Pesan”, Sinar Harapan, 18 Agustus 1973). Yang patut diingat oleh SBY, gerakan-gerakan antikorupsi yang selama ini sering didengungkan oleh para aktivis tidak selamanya bertujuan menjatuhkan pemerintahan, melainkan adalah gerakan agar pemerintah berjalan di rel yang benar. Jadi, kalau memang benar benar merasa tidak terlibat dengan skandal Century, dan bersih dari segala tindak tanduk konspirasi kekuasaan, mengapa harus takut digulingkan dari kekuasaan??

Ketika diam tak menjawab persoalan

Malam semakin larut ketika benak ini teringat era perjuangan negeri ini membebaskan dirinya dari belenggu penjajahan. Dahulu, kita memiliki orang-orang besar dengan ketulusan jiwa pengabdian yang tulus dengan mengesampingkan ambisi pribadi dan kekuasaan. Mereka tiadalah mementingkan diri sendiri, yang ada dalam benak mereka adalah ambisi untuk membawa bangsa ini keluar dari belenggu penjajahan. Termasuk kesantunan dalam berpoilitik pun kiranya sangatlah jarang dimiliki oleh para politikus di masa sekarang. Jika kita membaca buku sejarah yang menceritakan bagaimana panasnya perdebatan dalam rapat-rapat di DPR atau pun dalam rapat kabinet, rapat2 tsb berjalan alot disertai perdebatan sengit dari tiap-tiap orang yang mempertahankan pendapatnya masing-masing dan disertai argumen dan ideologi masing-masing, tapi ketika rapat itu usai atau pun ketika break dari rapat, para politisi bisa makan bareng dengan diselingi canda tawa keramahan, bahkan ketika rapat itu usai, mereka berangkulan penuh kekeluargaan. Padahal secara ideologis antara Soekarno yang berideologi nasionalis, Natsir yang berideologi Islam, atau pun Sjahrir yang berideologi sosialis, sangat sulit untuk menyamakan pendapat mereka bertiga, tapi walaupun begitu etika berpolitik mereka sangatlah santun yang kiranya sangatlah tepat jikalau politikus sekarang untuk mencontohnya.
Jikalau kita berbicara mengenai etika politik, kita bisa mencontoh M. Natsir. Ia bisa berdebat sengit dengan Ketua PKI DN Aidit di dalam sidang tapi setelah sidang usai ia bisa berbincang ringan sambil minum secangkir kopi tanpa ada permusuhan.

ketegasan seorang Soekarno pernah diuji ketika pada thn 59, Indonesia mengalami kekisruhan politik yang luar biasa yang membuatnya harus mengeluarkan Dekrit Presiden untuk mengatasi kekalutan politik pada saat itu. Berbeda dengan kondisi sekarang yang jika dilihat secara sepintas, SBY seolah-olah tidak mau terlibat dalam perseturuan KPK-Polri. Padahal jika dia mampu untuk tegas, bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk mengambil tindakan tegas dengan melakukan sedikit campur tangan terhadap permasalah ke dua institusi penegak hukum tsb, karena posisi SBY bukan hanya sbg kepala pemerintahan semata, tapi juga sbg kepala negara yang tentunya memiliki kekuasaan tertinggi sbg penyelamat negeri ini jika negara berada pada keadaan amburadul spt sekarang ini.

Institusi Polri mestinya berbangga hati (dan menontohnya) karena pernah memiliki Kapolri sekaliber Jendera Hoegeng. Hoegeng adalah tipe polisi sejati yang mungkin belum kita temukan kembal pada polisi2 di saat ini. Ketika dia hendak memasukkan anaknya ke perguruan tinggi, dia menolak untuk menuliskan namanya dalam lembaran orang tua calon karena tidak ingin proses penerimaan anaknya menjadi diperlancar dikarenakan melihat latar belakang orangtua anaknya yang merupakan seorang kapolri.

bangsa ini juga mestinya berbangga hati karena pernah memiliki seorang Hatta yang memiliki konsep ekonomi kerakyatan dalam bentuk ekonomi koperasi, yang sayangnya konsep tersebut tidak diteruskan oleh kita. Malah diteruskan oleh seorang M. Yunus, seorang penerima nobel perdamaian dari Bangladesh, karena telah membangkitkan ekonomi rakyat Bangladesh melalui Grameen Bank miliknya (tanpa bantuan pemerintah) sehingga dianggap telah mengangkat perekonomian rakyat miskin yang berimplikasi pada perdamaian di Bangladesh.

Sekilas mata ini tertuju pada koran yang tergeletak di samping laptop, dan isinya pun tak jauh berbeda dgn berita-berita sebelumnya yang tentunya masih menyesakkan dada kita karena kemuakan yang luar biasa akibat penegakan hukum yang semrawut dan tiada berkeadilan. Teringat pula benak ini dengan apa yang pernah diucapkan oleh seorang M. Husni Thamrin 70 tahun silam yang kiranya masih sangat relevan dengan kondisi negara kita saat ini, "satu hal yang dapat dipastikan bahwa rasa keadilan yang dibangun dewasa ini sangatlah sulit dicari. Kepercayaan terhadap keputusan pengadilan termasuk salah satu sandaran utama negara yang sangat penting, tetapi dengan banyaknya keraguan terhadap kenetralan institusi pengadilan, maka pemerintah akan kehilangan salah satu pilar terkuat untuk memelihara kedaulatan hukum". Ketika kepercayaan publik ternodai oleh mafia-mafia peradilan, akan sult untuk mengharapkan terciptanya suatu kedaulatan hukum yang bebas dari tekanan penguasa.

MAlam beranjak naik tanpa kehadiran bulan yang menerangi gulita, tak pelak kondisi ini tak jauh berbeda dengan negara ini yang membutuhkan seorang penerang hukum. Karena para pngadil di negeri ini hanya menjalankan fungsinya dengan cara membaca secara tekstual UU yang ada, tanpa melibatkan hati dan kemanusiaannya sbg manusia. Maka tak aneh jika seorang Minah bisa terjerat vonis walaupun hanya mencuri tiga buah kakao, tak aneh pula seorang Aguswandi bisa terjerat hukuman maksimal tujuh thn penjara hanya karena memakai listrik untuk mencharge hp tanpa sepengetahuan pemilik. Tak aneh pula jika seorang yang terkena kasus Century hanya dihukum 4,5 thn penjara padahal uang yang digelapkan mencapai 6,7 Trilyun, sementara ada mantan pimpinan BI yang dihukum 5 thn penjara sbg bentuk pertangungg jawaban penyalahgunaan dana yayasan BI sebesar 100 Milyar.
Padahal di Vietnam sana, presidennya memecat seluruh petinggi Departemen Perhubungan dan menggantinya dengan orang2 baru karena ketahuan korupsii dalam pengadaan infrasruktur di Vietnam. Di China lebih ganas lagi, pejabat yang ketahuan korupsi, maka anak dan istrinya turut pula di hukum mati sebagai efek jera untuk mereka yang berniat korupsi. Suatu langkah yang luar biasa dari China, maka tak heran kalau negara ini bisa mencapai pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 10%, karena memang negara itu tegas dlm pemberantasan korupsi. Di negeri ini malah sebaliknya, ada lembaga yyang berniat untuk membersihkan 'tikus-tikus binal' tak tahu diuntung dari negeri ini, tapi sang lembaga malah ingin dilemahkan dengan berbagai macam skenario tak beradab.
Banyak cara yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tak senang dengan keberadaan lembaga ini, ketika sang ketua berniat untuk menyelidiki pengadaan IT oleh KPU, sang ketua malah dijebloskan ke penjara dengan alasan terlibat kasus pembunuhan berencana. ketika wakil2na berniat untuk menyelidiki dugaan penyelewengan Century, para wakil ketua tsb malah ditahan dgn tuduhan penyalahgunaan wewenang dan pemerasan yang tak masuk logika.
Dan kerumitan-kerumitan kasus kasus tersebut dengan sukses mengalihkan perhatian publik dari prgram 100 hari pemerintah. Tidak ada yang memperhatikan apakah target peneingkatan ekonomi tercapai atau tidak, Tidak ada yang memperhatikan proses pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW yang kini malah tersendat, sehingga rakyat masih mengalami pemadaman bergilir. Tidak ada yang memperhatikan proses legisasi UU Lalu lintas hingga UU tsb disahkan, padahal denda untuk pelanggaran naik hingga 10 kali lipat dari sebelumnya. Dagelan politik tak bermutu dengan suksesnya berhasil mengalihkan publik dari persoalan persoalan lain yang tak kalah pentingnya untuk mendapatkan sorotan publik.

Akhirnya, walaupun yang membaca notes saya bosan dengan isi notes yang tak jauh dari korupsi dan kebobrokan lainnya, walaupun yang membaca notes saya tidak setuju dengan isi notes ini, korupsi harus kita pantau dan tentu saja saya tak akan bosan untuk mengungkapkannya, karena hanya inilah yang rakyat kecil bisa lakukan, karena rakyat kecil tak akan memiliki kekuasaan layaknya presiden untuk memerintahkan aparat penegak hukum supaya memeriksa nama-nama yang disebut pada rekaman ANggodo.

Karena rakyat kecil hanya bisa berteriak dalam sepi mengharapkan ketidakadilan segera berganti dengan keadilan. dagelan segera berganti dengan kenyataan. dan harapan segera berganti dengan pelaksanaan.

ketika diam tak kunjung menjawab semua persoalan, apakah kita mesti bergerak ke jalanan?? menreriakkan dengan lantang tentang arti keadilan?? keadilan yang tak kunjung didapatkan, karena rakyat kehilangan sebuah harapan, dari penguasa yang kehilangan perasaan...

Ironesia

Saat ini jarum jam menunjukkan waktu 00.03. Mata ini tak jua kunjung terpejam. Tanpa sengaja benak ini teringat sebuah catatan pinggir yang kutulis sewaktu masih berstatus siswa SMK di ebuah SMK di kota Bandung pada 18 September 2005, tepat 4 tahun yang lalu. Sebuah catatan yang kupikir masih sangat relevan dengan kondisi sekelilingku. Catatan itu kutulis di sebuah kamar sumpek di suatu malam pada jam 21.17, yang saat itu tengah ramai-ramainya diperbincangkan rencana pemerintah untuk menaikkan BBm tuk yang kesekian kalinya, yang ramai pula diperbincangkan (saat itu) bagaimana BBM menjadi tiba-tiba langka di tengah derasnya arus penolakan rencana tersebut. Benak ini menjadi terasa gatal untuk kembali mengingat tulisan tersebut karena ku rasa masihlah sama kondisinya dengan sekarang. Tulisan yang mengingatkanku pada sebuah istilah rekaanku dalam imajinasi sederhana seorang anak SMK, “IRONESIA”.

Kira-kira itulah judul catatanku 4 tahun yang lalu. Dengan judul seperti itu, mungkin orang akan sedikit mengira-ngira kalau arti IRONESIA adalah Indonesia yang sedang bertransformasi menjadi sebuah Negara besi. Dimana jika kita dalami, esensi dari makna besi adalah keras, sekeras kepala para petinggi negeri ini dalam menelurkan kebijakan yang tidak bijak, kokoh yang melambangkan keangkuhan para pejabat negeri ini, dan karat senada dengan keadaan Negara ini yang sedang dalam tahapan sekarat karena terus digerogoti para tikus berkerah yang tak lebih hina dari seorang bandit kelas teri. Itu mungkin terminology IROnesia dari seorang tukang besi yang bercita-cita menjadi negarawan.
Namun sebetulnya simple saja, Ironesia tak lebih dari singkatan ‘Ironi di Indonesia’. Ironi? Yup! Indonesia adalah negeri yang penuh dengan keironisan. Banyak hal yang terjadi di negeri ini adalah sesuatu yang ironis sekaligus menyayat hati. Indonesia adalah Negara yang gemah ripah loh jinawi, yang kalo koes plus bilang kolamnya kolam susu, tapi koq rakyatnya masih menderita gizi buruk.
Ada orang yang mencuri 3 buah kakao dengan sigap proses peradilan berjalan cepat dan sigap, sementara ada orang yang merampok duit Negara yang nilainya mungkin setara dengan 3 milyar buah kakao malah dibiarkan lepas begitu saja. Bahkan bukannya berkoordinasi untuk menjerat sang rampok, para penegak hukum malah saling tuding, saling bela, saling tunjuk, bertengkar diantara sesama penegak hukum lainnya sementara sang rampok tertawa bahagia melihat para penangkapnya malah lebih sibuk bertengkar dengan sesamanya.

Ada pula ‘yang tertinggi’ di negeri ini yang ketika nama anaknya terjerat kasus politk uang di Ponorogo dan Pasuruan semua anggota kepolisian dibuat sibuk bahkan sampa menrjunkan tim dari polri untuk mengusut dugaan pencemaran nama baik tersebut, sementara ada ‘tikus milyuner’ yang jelas – jelas menyebut nama ‘yang tertinggi’ dalam percakapannya yang menyangkut mafia peradilan, tapi ‘yang tertinggi’ seolah-olah bungkam dan memaafkan tikus tak tahu diuntung tersebut. Ironis..
Sumber energy di negeri ini sangat melimpah ruah, dari mulai air, ombak, angin, panas bumi, gas, tapi warga masih harus bersabar menunggu pasokan listrik karena sekarang ini masih berlangsung pemadaman listrik bergilir. Bahkan, temanku pun yang sudah susah payah menyiapkan presentasi untuk seminar TA nya, sampai harus gigit jari karena pada saat hari-H nya sang listrik tidak mengalir disebabkan adanya pemadaman listrik begilir.

Ada kabar gembira mengenai peningkatan pemberantasan korupsi di negeri ini, tapi ternyata para penggede malah ketakutan karena KPK menangkap koruptor tanpa pandang bulu. Mereka malah berencana untuk menghabisi KPK karena dikhawatirkan KPK yang katanya superbody itu akan membabat habis pihak-pihak yang brkaitan dengan dirinya. Apa dasar mengatakan KPK sebagai sebuah lembaga yang super body? Tuduhan itu jelas tiada berdasar. Kewenangan KPK tak jauh beda dengan Polisi atau Jaksa. Bahkan ada lembaga lain yang jauh lebih superbody dibandingkan KPK. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) lebih superbody dibandingkan KPK. KPPU mulai dari proses penyidikan sampai putusan, dipegang oleh KPPU. Bukankah yang seperti itulah yang dinamakan superbody? KPK dalam proses nya masih melibatkan pengadilan, berbeda halny dengan KPPU yang sepenuhnya dipegang oleh KPPU. Ironisnya, tidak ada yang mempermasalahkan KPPU. Mungkin anda sendiri tahu jawabannya, kenapa KPPU tidak mengundang perhatian para penggede.
Para pejabat tinggi Negara berencana untuk naik gaji, sementara para buruh pabrik hanya untuk mendapatkan standar gaji yang sesuai dengan stndar hidup layak pun sampai harus mati-matian memperjuangkannya. Ironis sekali.

Ada banyak lagi ironi di negeri ini, hanya saja saya takut yang saya tulis nantinya malah menumbuhkan ketidakcintaan terhadap negeri ini. Bukan maksud saya untuk mengurangi kecintaan anda terhadap bangsa ini dengan menujukkan beberapa ironi-ironi tersebut, yang saya maksudkan adalah sebagai pengingat bahwa betapa banyaknya pekerjaan yang mesti kita lakukan untuk kemajuan negeri ini. Ada begitu banyak hal yang patut untuk kita perbaiki. Dan salah satunya adalah dengan menunjukkan bahwa kita saat ini sedang tidak baik baik saja. Karena kebanyakan dari kita beranggapan bahwa kita baik-baik saja, sementara pada realitasnya kita sedang tidak baik baik saja.

Yah, memang beginilah system demokrasi, apa yang dibuat oleh manusia dalam bentuk regulasi-regulasi memang ga bakalan sesuai dengan manusia. Yang paling sesuai adalah system yang dibuat oleh yang menciptakan manusia. Karena Dia lah yang menciptakan kita, sehingga lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita.

Ironesia, sebuah kata dari benak seorang anak SMK yang mungkin terlalu sok tahu, padahal dia ga lebih dari sekedar anak kemarin sore yang tidaklah terlalu banyak tahu. Tapi walaupun begitu, dia masih punya nurani.

Ironesia, semoga tidak terjadi…

Elegi ibu Minah..

Koran KOMPAS edisi jumat ini belum sempat kubaca, ketika tengah memasukkan data-data penelitian ke dalam laptop, sekilas mata ini melihat tulisan yang menggelitik pikiran pada halaman awal koran bertiras terbanyak di Indonesia itu, tangan ini pun tergerak untuk mengambil Koran tersebut dan langsung mata ini tertuju pada sebuah tulisan yang sangat menggugah perasaan kita sebagai manusia. “Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau”, itulah judul awal sebuah artikel di lembar utama Koran tersebut, yang sangat mengguncang kemanusiaan saya sebagai manusia, bagaimana tidak, seorang nenek 55 tahun yang buta huruf divonis 1 bulan 15 hari karena mengambil 3 buah kakao yang akan dijadikan bibit oleh nenek tersebut di ladang pertaniannya..!!

Ya Tuhan…, keanehan apalagi yang tengah di pertontonkan belantara hukum di negeri berkembang ini?? Dagelan hukum apalagi yang kan dipertunjukkan di pentas penegakan hukum di negeri ini?? Ketidak adilan apalagi yang hendak ditunjukkan para penghukum dan pengadil di negeri ini??
Sakit terasa hati ini ketika membayangkan seorang nenek tua yang mesti menghadapi kursi pesakitan karena ketidaktahuannya atas apa yang dilakukannya. Tahukah kawan? Mengapa sang nenek sampai tidak mengetahui bahwa mencuri itu dilarang? Karena beliau tidak berpendidikan. Kenapa tidak berpendidikan? Karena dana pendidikan tidak sampai kepada orang kecil jelata seperti mereka. Kenapa tidak sampai? Karena dana pendidikan habis di makan kejamnya birokrasi yang tak lebih hina dari sebuah borokrasi.

Ibu minah tak lebih hanyalah seorang nenek yang hendak mengambil kakao untuk bibit lahan pertaniannya yang tak seberapa. Disinilah kita bisa melihat kedigdayaan sebuah perusahaan kakao dalam memarjinalkan rakyat jelata yang tak mengerti apa-apa. Jaksa dengan begitu semangatnya menuntut sang nenek dengan segala tuntutannya, tapi berbeda halnya ketika jaksa mesti menuntut Anggodo, apakah jaksa tsb masih bernyali layaknya ketika menuntut Minah? Mengapa jaksa begitu semangat menuntut rakyat jelata yang ‘hanya’ mencuri 3 buah kakao yang nilanya tak seujung kuku pun dari dana yang digelontorkan untuk Century? Dimana lagi keadilan bisa didapatkan jikalau penegak hukumnya seperti itu? Dimana lagi kita mesti mencari keadilan tak terperi jikalau penegak hukum lebih peduli dengan 3 buah kakao daripada dana 6,7 trilyun yang tak jelas lari kemana?

Padahal seandainya para penegak hukum itu bisa menghitung, sedikit pelajaran matematika dasar yang (mungkin) pernah dipelajarinya di bangku sekolah menengah, 6,7 Trilyun lebih dari cukup untuk membiayai pelaksanaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) yang dalam APBN hanya membutuhkan dana 6,6 Trilyun. Sehingga dgn adanya SIAK tsb, kekisruhan data pemilih tetap pada setiap Pemilu tidak akan terjadi lagi. Rakyat menjadi memiliki identitas yang pasti. Uang 6,7 Trilyun juga cukup untuk membeli 6.700 buah Toyota Crown Majesty yang kini menjadi tunggangan menteri cabinet. Uang 6,7 trilyun apabila dibelikan beras (yang berharga Rp 7000) maka akan didapatkan 957,15 juta kg, dan jika beras itu kemudian disebarkan ke seluruh penjuru pulau Jawa, maka wajah pulau Jawa akan terlihat putih jika dilihat dari atas.

Tidak inginkah para penegak hukum yang terhormat untuk mengembalikan uang yang besarnya tak tehitung Minah yang buta huruf itu? Tak banyak yang diinginkan rakyat selain terciptanya rasa keadilan di negeri tercinta ini. Apakah dengan menjebloskan seorang Minah lantas bisa mengentaskan kemiskinan di negeri ini? Yang jelas dengan memberantas orang2 seperti Anggodo, Anggoro, Artalyta, yang bermain main dengan mata para penegak hukum, kemiskinan bisa dientaskan, dan rasa keadilan rakyat bisa dikembalikan pada tempatnya. Pertanyaannya sekarang, adakah orang yang memiliki keberanian layaknya seorang Hatta yang berani mengundurkan diri sebagai Wapres karena ketidaksetujuannya terhadap kebijakan Soekarno yang tidak berpihak pada rakyat.

Belum hilang rasa sakit karena menyaksikan bagaimana dahsyatnya penindasan korporasi terhadap rakyat jelata, bertambah pula sakit hati ini ketika menyaksikan tidak ada satu orang pun dari fraksi democrat yang mendukung angket century. Kemanakah hati nurani anggota dewan yang terhormat? Padahal mereka ini memiliki jumlah mayoritas di parlemen karena pada pemilu kemarin mereka mencapai kemenangan gemilang yang mencapai hampir 30% suara. Tapi jumlah mereka yang banyak ternyata tidak membawa suara rakyat? Ada apa lagi ini? Sementara ada 8 fraksi yang lain yang mendukung angket Century, koq ini satu fraksi kompakkan tidak ada yang mendukung angket tersebut? Ini jelas melukai hati rakyat, yang selama ini selalu terpinggirkan oleh makna demokrasi yang dangkal. Padahal rakyat menginginkan kejelasan uang yang jumlahnya amat sangat besar tsb, tapi di DPRnya sendiri malah tidak digubris oleh fraksi mayoritasnya. Tidakkah para penganut faham demokrasi itu tahu, bahwa ‘suara rakyat adalah suara Tuhan’? representasi menjadi bias karena ketiadaan kepahaman mengenai rasa dan nurani.

Keterwakilan adalah suatu keniscayaan di sebuah Negara yang menganut demokrasi. Ketika keterwakilan mnjadi ketidakterwakilan, siapkah Negara tersebut menghadapi mobokrasi yang berujung pada anarki? Belumlah terlambat untuk memperbaiki diri, selalu ada kesempatan kedua, tapi tak akan ada kesempatan ketiga bagi mereka yang tidak pernah belajar dari kesalahannya.
Akhirnya, hujan pun reda ketika penulis menyelesaikan tulisan yang tak lebih dari sekedar ‘curhat’an sederhana dari seorang pemuda. Redanya hujan membuatku berangan-angan kapankah ketidakadilan ini mereda? Haruskah menunggu 2012 terjadi supaya keadilan bisa tegak di muka bumi. Keadilan memang sulit tapi bukan berarti tidak bisa ditegakkan.

Banyak yang berbicara, bahwa apa yang saya tulis tak lebih dari sebuah angan angan surga yang tak mungkin kita jangkau, bahwa apa yang saya tulis dalah sebuah idealism yang tak mungkin kita tempuh. Tapi, selantang apa pun orang tak suka dengan apa yang ku tulis, saya tetap berkeyakinan “daripada kita mencaci kegelapan, lebih baik kita mulai meneranginya dengan memulai menyalakan lilin”. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk membuat negeri ini bangkit dari keterpurukan. Lebih baik, ada yang kita lakukan, daripada hanya bisa mengomentari apa yang belum tentu bisa dibuat oleh dirinya sendiri. Terkadang, sebuah tulisan bisa menggerakkan pergerakan, menggulingkan kekuasaan, dan mengingatkan adanya suatu kejahatan. Mungkin, anda ingat betapa dahsyatnya pesona Laskar Pelangi yang bisa menggetarkan motivasi untuk mencari pendidikan, atau dahsyatnya The Da Vinci Code yang menguncangkan keimanan para pembacanya, atau kekuatan seorang Leo Tolstoy yang bisa meruntuhkan sebuah rezim di Uni Soviet, jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah tulisan, karena terkadang tulisan lebih kuat dan tajam dibandingkan senjata..

jeritan orang terpinggirkan..

Gempa di Bima yang memporakporandakan rakyatnya, jeritan rakyat jelata yang semakin sulit kehidupannya, teriakan para buruh yang menuntut realisasi kenaikan gaji yang sesuai dgn standar hidup layak, tak jua mengalahkan berita buaya yang tengah dirundung bingung karena kehilangan cecaknya. Padahal jeritan rakyat semakin memilukan, tapi tak ada yang peduli denan mereka semua mata tertuju di Mabes Polri dan panggung sandiwara yang tengah dipertontonkan oleh para pemain ludruk banyol di gedung pertunjukkan yang sering dikenal dengan nama Senayan. Berita mereka seolah-olah sinetron kejar tayang yang setiap harinya bersambung dengan kejutan-kejutan basi yang akhir ceritanya akan sangat mudah ditebak. Muka mereka tidak bisa melihat penderitaan rakyat karena saking tebalnya make up kemunafikan dalam diri mereka. Kapankah episode ini akan segera berakhir. Rakyat sudah lelah dengan semua dusta, intrik politik, dan permainan2 yang tiada berkesudahan.
Minggu-minggu ini wajah bopeng penegakkan hukum Indonesia tengah dipertontonkan secara luas mengalahkan berita-berita lain yang dianggap kalah taji dibandingkan berita para reptile yang berebut kue kekuasaan. Para penegak hukum lebih focus untuk membela dirinya (baca: institusinya) daripada menegakkan keadilan hukum di negeri ini. Dalam perspektif teori keadilan John Rawls, krisis keadilan buah dari krisis kebenaran di negeri ini tampak dalam diri para penegak hukum (polisi dan jaksa), para legislator, dan elit politik yang tidak berperan sebagai person moral. Ketika moral menjadi tidak dipentingkan oleh mereka mereka ini, ketika itulah keruntuhan suatu negara tinggal menghitung waktunya.
Ditambah lagi oleh sikap istana (baca: presiden) yang seolah-olah tidak jelas dan terkesan bermain aman. Padahal beliau ini haruslah bertindak sebagai negarawan yang memiliki hak prerogratif untuk turut serta demi kemaslahatan sebuah bangsa yang bernama Indonesia.
Jika kita perhatikan awal mula perseteruan KPK-Polri-kejagung, presiden bersikap netral, dengan dalih menghormati proses hukum. Ketika kejadian berlanjut dengan penahanan Bibit – Chandra, yang menuai kecaman dari berbagai macam pihak, presiden berinisiatif untuk membentuk Tim Delapan guna mengusut kejadian penahanan tsb, padahal scr tersirat pembentukan tsb tak lebih sbg tameng supaya presiden tidak secara langsung campur tangan sekaligus sbg bumper jikalau ada reaksi dari masyarakat luas terhadap istana, maka presiden tak usah menghadapi rakyat scr langsung karena sudah ada Tim Delapan. Dengan adanya Tim Delapan ini istana seolah-olah sedang membela KPK.
Kejadian pun berlanjut ketika MK berniat untuk membuka rekaman percakapan Anggodo, istana yang melalui menhukham malah mempertanyakan relevansi pembukaan rekaman tsb dalam sidang MK. Dalam hal ini istana malah ingin menghambat proses di MK sehingga terkesan ada sesuatu yang ditutup-tutupi. Sikap aneh juga diperlihatkan oleh presiden, jika kita perhatikan di media, dalam percakapan ANggodo tsb disebut-sebut nama RI-1. Tapi anehnya, presiden tidak bereaksi scr keras terhadap pencatutan namanya dlm percakapan tsb. Seharusnya, pencatutan nama tersebut digugat secara hukum untuk membuktikan bahwa presiden tidak ada kaitnnya terhadap mafia peradilan di Indonesia. Ini kan aneh, padahal kita masih ingat, beberapa waktu lalu istana begitu reaktif menanggapi kasus pencemaran nama baik Eddi baskoro yudhoyono terkait politik uang dalam kampanye pemilu kemarin, istana juga sangat reaktif terhadap SMS bernada ancaman terhadap Ibu ANi Yudhoyono. Tapi koq untuk kasus yang satu ini, istana terkesan adem adem aja? Padahal secara substantif, pencatutan nama RI-1 oleh anggodo juga bermakna ancaman terhadap nama baik dan kredibilitas presiden. Tapi mengapa untuk yang satu ini istana seolah-olah memaafkan anggodo ya??

Sedih hati ini ketika melihat tayangan rapat dengar pendapat antara komisi III dengan Polri yang sangat nyata sekali menunjukkan dukungan penuh terhadap Polri bahkan sampai photo bersama segala. Padahal kita tahu mayoritas rakyat saat ini tengah sakit hati dengan kinerja polri yang tengah bermain api terhadap penegakan hukum di Indonesia.
SBY dalam pidato pelantikannya sbg presiden menyatakan bahwa dirinya akan memasang badan terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia, tapi faktanya koq jadi ironis sekali ketika 8 fraksi di DPR mengusulkan dan mendukung hak angket untuk menyelidiki kasus Bank Century tapi fraksi Demokrat malah tidak mendukung hak angket tsb. Ada apa alagi ini?? Jika kita baca judul berita di Kompas edisi hari Kamis, akan kita dapati judul artikel yang menohok para pemilih Partai Demokrat pada pemilu legislative kemarin, silahkan baca kepada para pemilih Demokrat, judul artikelnya berbunyi “Angket Century Siap, 78 Anggota DPR dari 8 Fraksi Mendukung, KECUALI DEMOKRAT”. Apakah 20% lebih penduduk Indonesia yang memilih democrat telah salah pilih?? APakah 60% lebih pendidik Indonesia telah salah pilih?? Hanya Tuhan yang tahu. Saya tidak berhak untuk menilai pilihan mayoritas Indonesia, karena saya bukan siapa-siapa. Padahal kasus century adalah megaskandal terbesar di Indonesia yang hingga kini angkanya malah semakin bertambah mendekati angka 9 trilyun. Tapi koq malah tidak didukung oleh fraksi mayoritas di DPR ya??

Inilah potret negara yang rakyatnya hanya menilai figure dari kemasan semata dan menafikan substansi. Rakyat yang terpesona oleh kemasan ragawi tapi menafikan isi. Termasuk adanya berita2 perseteruan KPK vs Polri yang menyedot perhatian luas saat ini, rakyat pun terpesona oleh drama-drama berurai air mata dan terlupakan bahwasanya ada program 100 hari pemerintahan SBY episode 2 yang seharusnya kita kritisi dan pantau secara maksimum. Ada begitu banyak program 100 hari pemerintah tapi hanya segelintir orang yang memperhatikan berita tersebut. Padahal berita tsb tak kalah pentingnya karena menyangkut masa depan Indonesia di masa mendatang.

Wajah peradilan Indonesia benar-benar bopeng sampai sampai Indonesianis Daniel S Lev pernah mengusulkan agar semua hakim dan jaksa dipecat dan digantikan orang yang sama sekali baru, karena saking parahnya mafia peradilan di negeri ini.

Saya benar-benar lelah dan muak dengan berita-berita akhir2 ini yang tiap harinya menunjukkan kebobrokan negara ini. Dan teman2 yang baca note saya pun akan merasakan hal yang sama ketika mereka mendapati note dari saya yang isinya juga tak jauh-jauh dari yang namanya caci maki untuk negeri ini. Karena apa lagi yang saya bisa lakukan selain memainkan jari di atas keyboard?

Maafkan saya yang hina ini yang dengan keterbatasan ilmunya hanya mampu untuk mencaci meneriakan kemarahan kepada mereka2 di atas sana. Maafkan jika ada dari mereka yang tersinggung dengan kalimat-kalimat saya, karena saya sayang dengan negara ini yang kini tengah di ambang kehancuran. Bukan cara saya untuk ikut berdemonstrasi di tengah-tengah bundaran HI karena saya hanyalah seorang semi mahasiswa yang harus bekerja di siang hari demi mendapatkan sekeping uang kuliah di malam hari. Yang harus bekerja karena system pendidikan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan terpinggirkan seperti saya. Bukan cara saya untuk ikut menghadiri dukungan2 dalam suatu gerakan karena saya bukanlah aktivis mahasiswa. Bukan cara saya untuk ikut dialog interaktif dalam suatu acara dukungan, karena saya bukanlah pakar tata negara atau mahasiswa hukum. Saya tak lebih dari mahasiswa kimia yang gelisah ketika negaranya lupa terhadap rakyatnya. Bahwasanya ada banyak yang terlantar di luar sana akibat berlarut-larutnya kasus ini.

Waktu beranjak pagi ketika saya menulis notes ini dan menyadarkan saya kepada suatu realitas hidup yang sesungguhnya bahwa esok hari saya mesti berangkat kerja demi menanggung uang dalam rangka mengakali pendidikan yang semakin dikomersilkan. Jika ada yang mengamati program 100 hari presiden (sayangnya saya tidak yakin akan ada yg mengamati), akan ada 15000 lebih beasiswa untuk siswa SMA yang tidak mampu untuk meneruskan ke perguruan tinggi, akankah terealiasi?
Para petinggi lebih tertarik untuk mengajukan kenaikan gaji ketimbang memikirkan nasib para anggota TNI yang mesti menjaga kedaulatan negara di perbatasan negara yang hanya mendapatkan uang makan 30.000 sehari. Yang untuk mendapatkan bahan makanan mereka mesti menyewa kapal yang harganya jauh melebihi uang transportasi dari negara. Padahal tanggung jawab mereka sangatlah besar mengingat kedaulatan negara bukanlah hal yang sepele.
Negara lebih focus untuk menaikkan gaji PNS, sementara buruh-buruh swasta yang notabene memiliki hak yang sama di negeri ini seolah olah menjadi warga kelas dua dan terlupakan kesejahteraannya. Maafakan saudarakau yang PNS, bukan maksud hati saya untuk mendiskreditkan anda, tapi inilah fakta yang terjadi, ketika negara selalu memperhatikan anda, ada saudara kita yang terlupakan nasibnya, dan negara lupa kepada mereka yang selalu terpinggirkan, bukan hanya oleh kejamnya swasta tapi juga oleh negara.
Ketika ketidakadilan merajalela haruskah hukum rimba yang berkuasa?? Bersyukurlah kita manusia yang beradab dan dikaruniai iman kepada Tuhan, sehingga kita terhindar dari bencana. Walauapun ada bencana lain yang selalu menghantui kita, bencana yang lebih nyata, yaitu ketika penguasa lupa terhadap rakyatnya…, tapi ingatlah ada Yang Maha Melihat yang akan mengawasi sepak terjang anda wahai penguasa. Karena Dia Yang Tak Kasat mata lebih dekat dari yang anda sadari, lebih tahu melebihi yang kau tahu…

kesatuan itu...

SERAGAM!! kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi media massa di negeri tercinta ini. Di negara (yang kata orang luar sana masih belum terlalu bagus minat bacanya ini) kita sangat sulit untuk menemukan adanya diferensiasi yang jelas dari setiap media massa yang terbit. Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti halnya nama lengkap dari negara ini, (bukan maksud menghina, tapi ini fakta) amat sangat bersatu dalam segala hal. Kesatuan begitu terasa disini. Indonesia yang satu, layaknya sumpah pemuda dahulu yang dikumandangakan para pemuda era dulu, masih sangat kuat higga kini.

Saking satunya, warganya hanya mengenal satu jenis aliran musik, yaitu pop kemelayu melayuan, yang pasarnya begitu kuat dikendalikan para pemilik modal, sehingga tak ada ruang bagi mereka para seniman untuk mencoba suatu kebaruan dalam bermusik. Tak ada tempat bagi mereka para pedangdut yang di tahun ini sudah begitu banyak yang gulung tikar dikarenakan sepi order, karena ketiadaan order dari para pengelola bisnis entertainment dengan kalimat yang menyakitkan "sekarang sudah bukan eranya musik dangdut. sekarang eranya pop".

saking satunya, sutradaranya hanya mengenal satu jenis film yang temanya bergantung pada selera pasar. Kalau dulu ada era horor, maka semua sutradara akan berlomba-lomba membuat film yang sama. Tidak ada yang namanya idealisme dalam berkarya. Yang ada hanyalah pemenuhan selera pasar, maka tak heran kalau jumlah film-film yang berkualitas buatan Indonesia sangat sedikit, berbeda dengan Thailand atau China yang begitu produktif membuat film yang berkualitas tanpa mengesampingkan idealisme berkarya.

Saking satunya, media massa hanya mengenal satu jenis berita terutama berita-berita yang terkadang malah lebih banyak efek dramatisasinya dibandingkan substansi beritanya. Padahal media massa di Indonesia ini sudah lumayan banyak, untuk televisi ada kurang lebih 13 stasiun tv swasta nasional, belum lagi ditambah tv-tv lokal plus tv-tv kabel. Tapi, ya karena saking satunya, semuanya menayangkan berita yang sama. Kalau kemarin-kemarin semua stasiun tv menayangkan Polri yang digdaya karena berhasil menangkap teroris kelas kakap, kini eranya menayangkan tayangan pertarungan para reptil-reptil kelas kakap di negeri ini. Karena saking satunya itulah, maka tak heran jarang ada stasiun tv yang menayangkan berita tawuran antar dua kampung di Bima NTB yang dianggapnya kurang prestisius beritanya dibandingkan berita para reptil yang saling bertarung tsb, Pdahal tawuran tsb berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa, tak kalah penting dari berita para reptil tersebut.

Tak heran pula, karena saking satunya, tak banyak yang meliput tentang tawuran antar etnis Ambon dengan etnis Betawi di Jakarta, karena beritanya masih kalah gengsi oleh para reptil2 tsb. Ada lagi berita pemukulan seorang siswa SMAN 82 Jkt yang dikeroyok oleh puluhan seniornya akibat siswa yang dikeroyok tersebut melintas di koridor depan sebuah kelas yang menurut para senior2 tsb tdak boleh dilewati junior2nya., berita ini juga masih kalah oleh berita para reptil2 tsb.
Berita perseteruan yang melibatkan persekongkolan tingkat tinggi memang merupaan berita yang sangat penting untuk diikuti dan diberitakan kepada khalayak ramai. Namun, ketika terjadi suatu pengaihan berita terhadap berita lainnya, maka itu akan menjad suatu hal yang buruk. Orang menjadi hanya tahu kasus rekaman KPK, perseteruan Polri vs KPK, berita Anggodo, tanpa tahu sedang apa KPK saat ini, tanpa tahu kasus apa yang tengah disidik KPK saat ini, tanpa ada yang memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyrakat sekitarnya, Tanpa tahu ada yang tengah berperang dalam suatu daerah, tanpa tahu perkembangan pemberantasan korupsi sampai sejauh mana, tanpa ada yang memperhatikan program2 SBY apa yang akan dilaksanakan yang pada kampanye kemarin begitu dielu-elukan tapi kini seperti kehilangan gemanya, tanpa ada yang mengamati pergerakan harga meinyak dunia yang saat ini mulai merangkak naik. Tanpa ada yang mengamati, bahwasanya perkembangan ekonomi saat ini cenderung stagnan dan tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Berita konspirasi tinggi memang berita yang sangat penting, tapi bukan berarti menyingkirkan berita-berita yang lain. Ataukah ini memang sengaja diciptakan konsisi yang seperti itu supaya rakyat menjadi buta berita lain yang juga tak kalah pentingnya? Ataukah memang direkayasa sedemikian rupa agar fokus utama yang kemarin2 akan menjadi headline pemberitaan menjadi kalah saing beritanya dengan berita perseteruan ini??

kesatuan memang indah bagi suatu negara majemuk tapi tidak untuk pemberitaan, kesenian, dan kreativitas.

tulisan ini tak lebih dari sekedar catatan pengingat untuk para penguasa dari orang-orang terpinggirkan, yang tak kenal lelah untuk bertahan hidup di negara yang kata Koes plus bilang kolamnya kolam susu tapi kini tak lebih dari kolam penampungan tissue.

Pelacur kekuasaan..

Terbiaskan dalam suatu diaspora definisi keadilan.
adilkah dunia, ketika sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai pejabat tinggi negara mempermainkan suatu produk manusia yang bernama hukum. Padahal ada suatu hukum yang telah disediakan oleh Dia Yang Maha Suci untuk kebaikan umat manusia, tapi tak pelak manusia pula yang menistakan dirinya dengan menolak apa yang telah disediakan Yang Maha Kuasa untuknya.

Pesona duniawi membuat sekelompok orang yang mengerti akan hukum menjadi pelacur kekuasaan.

adilkah dunia, ketika orang beramai ramai saling memberikan dukungan demi suatu frasa yang berbunyi "demi tegaknya supremasi hukum di Indonesia" sementara ada 70 juta rakyat miskin di negeri kita yang hidup terlunta-lunta di tanah kelahirannya sendiri. Rakyat tidak mengerti apa yang tengah dipertarungkan oleh sang kadal dan sang komodo di tengah tengah derasnya arus ketimpangan sosial di bumi pertiwi. Yang rakyat tahu uang yang diperuntukkan demi "menyelamatkan" suatu bank "spesial" sangatlah lebih dari cukup untuk membeli berton-ton pupuk untuk menghidupi lahan pertanian yang kini jumlahnya semakin tergerus oleh derasnya arus pembangunan akibat kolonialisme oleh saudaranya sendiri yang dulu sering dielu-elukan sebagai SAUDARA SEPENANGGUNGAN. Yang rakyat tahu, uang yang jumlah angka nolnya sendiri rakyat smpai bingung untuk menghitung jumlahnya, sangatlah lebih dari cukup untuk membangun infrastruktur pendidikan sampai pelosok pedesaan yang paling dalam sekali pun. Bahkan, sekolah gratis pun bisa terlaksana tanpa harus menyewa Cut Mini sbg bintang iklan yang mengklarifikasi konsep sekolah gratis padahal sekolah tidak pernah benar-benar gratis.

adilkah ketika 70juta rakyat mesti dikorbankan demi SATU BANK KECIL yang pemasukannya belum tentu dapat mensejahterakan rakyat. Beruntunglah, wahai para pejabat yang terhormat, bahwasanya anda-anda ini memiliki rakyat yang pemaaf dan berhati besar. Mereka yang mayoritas di negeri ini lebih memilih pasrah terhadap kehendak takdir yng mewarnai jalan hidup mereka. Bersyukurlah, kalian para petinggi negara diberikan rakyat yang sabar dan bisa menahan diri terhadap kesulitan hidup yang terus menderanya sepanjang masa hidupnya. Apakah anda para petinggi negeri malang ini tidak melihat tetangga kita Thailand? atau lebih jauh lagi ke Honduras? atau di Afrika sana ada Zimbabwe? atau Pakistan. Inginkah kalian, para pejabat yang terhormat, negeri kita menjadi seperti Thailand yang rakyatnya terpecah karena politik para petingginya?? ataukah anda ingin seperti Pakistan yang setiap harinya di landa bom? Atau ingin seperti Honduras yang presidennya dikudeta secara militer? Atau lebih parah lagi, mau seperti Zimbabwe yang mengalami HIPERINFLASI hingga mencapai 10000% sampai sampai ada pecahan uang 1 milyar saking tidak berharganya mata uang mereka?

cobalah untuk belajar memahami keinginan rakyatnya, rakyat tidaklah buta, tidaklah tuli, tidaklah bisu. Mungkin saat ni keamanan masih stabil, tapi apakah masih ada jaminan kejadian thn 74 atau thn 98 akan terulang kembali?

kita tidaklah menginginkan pejabat yang bertitel tinggi tapi berhati penguasa. Belanda memang kejam karena kita telah dijajah 3,5 abad oleh mereka, tapi lebih kejam lagi mereka yang sama-sama senasib sepenanggungan yang malah menghancurkan saudaranya sendiri. Adakah orang seperti itu yang kita sebut sebagai pejabat tinggi negara? jika seperti itu, maka sebutan yang paling cocok adalah pelacur kekuasaan yang sifatnya selalu menempel pada orang yang memiliki modal besar.

esensi perkara menjadi terbiaskan akibat keinginan untuk saling unjuk kekuasaan kekuatan sebuah lembaga penegak hukum. Padahal, apakah mereka tidak tahu (atau pura-ura tidak tahu) bahwasanya ada kekuatan yan lebih besar dari kekuasaan yang mereka miliki? Ada Dia Yang Maha Kuasa yang dengan sedikit kuasaNya saja bisa melululantakkan negeri ini dalam sekejap mata. Tidak cukupkah kejadian yang menimpa Tasikmalaya dan Padang kemarin? Tidak cukupkah satu generasi mesti hilang terbawa ombak tsunami? Tidakkah mereka belajar dari kejadian lampau?

Tapi wajarlah bila kita tidak sukses menjadi bangsa yang besar, karena sesungguhnya bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa meghargai sejarahnya dan berusaha memperbaiki dari kejadian di masa lalu. TIdak iri kah kita dengan bangsa Korea Selatan yang kemerdekaannya sama dengan kita, tapi kemajuannya jauh melebihi kita? Tidak irikah kita dengan korsel yang memewajibkan warganya untuk sekolah dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam demi kemajuan bangsanya?

retorika tak lebih dari seni bersilat lidah. kemarin para wakil rakyat dan petinggi2 yang lain mengadakan rapat hingga jam 2.30 pagi. Adakah suatu titik terang yang didapatkan? yang didapatkan tak lebih dari sekedar dagelan politik yang kualitasnya jauh di bawah srimulat, karena rakyat sudah mengetahui ending ceritanya.

masihkah tersisa sedikit nurani dalam diri mereka ketika mereka menginjak-injak kedaulatan rakyat? Bertingkah layaknya pemain sinetron yang tidak mendidik dan memuakkan.!!

Berhentilah kau berpura-pura karena panggung sandiwara dunia fana akan segera berakhir. Ingatlah ada laknat Tuhan menanti ketika kita tidak segera tersadarkan bahwasanya ada banyak hal yang harus kita perbaiki.

Maafkan saya yang hina ini bila terlalu lancang memainkan jari di atas pc. Karena ini tak lain sebagai kecintaan saya terhadap negeri ini. Apa yang saya punya selain kemampuan untuk menuliskan tulisan2 tak berbobot ini, karena tanda tangan saya tidaklah berharga seperti tandatangan anda para pejabat yang sekali teken bisa mengelontorkan dana hingga trilyunan rupiah. Tanda tangan saya hanya seharga sebagai bukti kehadiran absensi di kelas.

semoga negeriku bisa terbebas dari para tikus-tikus kekuasaan yang selalu mengerat kue-kue kekuasaan demi kepentingannya sendiri, karena tikus bila tidak diberantas akan lebih mudah untuk berkembang dengan pesat menyebarkan generasi2 dengan penuh kebobrokan dan kenistaan...
semoga tikus bisa lenyap dari negeri ini

semoga...

Tuhan Maha Tahu tapi Dia Menunggu....

TERSENTAK melihat skrip percakapan rekaman anggodo yang ditulis di kompas edisi kemarin. Sudah sedemikian parahkah bangsa yang disebut sebagai bangsa Indonesia? ketika nurani tiada berbekas, hati ini seakan lekas ingin bicara. Tak ingin rasanya hati ini menonton siaran televisi, yang hanya bisa mempertunjukkan dagelan erotis kebobrokkan moral para petinggi bangsa. yang hanya bisa saling tuding klaim kebenaran. tidak adakah yang melihat esensi dari berlarut-larutnya kasus ini selain daripada sebagai salah satu upaya pemelaratan rakyat jelata?? Orang menjadi lebih sibuk dukung KPK, tuding Polri, hina jaksa, pro MK, dukung SBY, padahal di Ponorogo sana ada warga satu kampung (malah satu generasi) yang menderita keterbelakangan mental (alias gila) akibat insecst yang dilakukan kakek nenek mereka pada era 60-70an dan BELUM TERSENTUH BANTUAN SEDIKIT PUN dari pemerintah. Bahkan pada pembagian BLT kemarin pun mereka tidak mendapatkannya. Tak terkira rasanya derita seorang nenek tua berumur 67 tahun yang mesti banting tulang karena anggota keluarga yang lainnya menderita gangguan jiwa. Dan dimana pemerintah?? Jawabannya, saling membela diri menghindari tudingan kanan kiri seakan-akan dirinya yang paling bersih.

TERHINA melihat uang (yang dalam benak rakyat miskin mungkin tidak akan pernah bisa menghitungnya dalam rentang seumur hidupnya) digelontorkan begitu saja demi menyelamatkan sebuah bank kecil yang bernama Bank Century. bantuan (yang walaupun gw ga setuju) yg bernama BLT saja tidak sampai mencapai agka 6.7 TRILYUN. Tapi ini dengan mudahnya digelontorkan dengan sangat mudah kepada orang yang dalam dompetnya tidak akan ada uang pecahan 1000 rupiah. Dan suatu penghinaan yang sangat besar ketika mereka yang dalam dompetnya tidak ada pecahan uang 1000 rupiah tersebut hanya dihukum 4,5 tahun. OMG, 6,7trilyun cuman dapet tiket hotel prodeo selama 4,5 tahun.?? Mantan petinggi BI saja yang notabene tdk menikmati hasilnya karena bertanggung jawab terhadap penyalahgunaan keluarnya dana 1 Milyar dari YPPI nesti menginap 5 tahun.

TERTUNDUK ketika ada orang2 yang berusaha menelusuri perginya 6,7 T tersebut mesti mendekam di balik terali besi karena ada para petinggi di negeri ini yang merasa kepentingannya terganggu. Disebutnya lah bahwa lembaga yang bernama KPK tsb adalah lembaga super body, padahal apakah otaknya yang bebal itu tahu, ada komisi lain yang jauh lebih super body dibandingkan KPK, tapi ya karena komisi tsb tdk mengganggu kepentingan pejabat itu, jadinya ya ora opo opo. begitulah akibatnya ketika nafsu kolonialisme kanibalis bangsa sendiri lebih dominan daripada nuraninya.

Begitulah akibat fatal ketika bangsa ini lebih tertarik pada hal-hal yang berbau pencitraan daripada sesuatu yang sifatnya jangka panjang. Ketika orang lebih tertarik pada kemasan dibandingkan isinya, mereka haruslah bersiap dengan resiko mendapatkan isinya ternyata adalah sesuatu yang busuk. dan suatu keprihatinan yang amat sangat luar biasa, ketika orang menjadi lebih tertarik memperbincangkan pertarungan para digdaya-digdaya hukum, orang berkumpul di jalanan meneriakan dukungan terhadap suatu komisi, sementara ada di tengah-tengah demonstrasi itu yang menadahkan tangannya mengharapkan belas kasihan dari para manusia yang sedang "mengingatkan" pemerintah.

MENANGIS ketika jari ini hanya bisa meratapi nasib bangsanya yang tengah terpuruk dan tertatih tatih lewat suatu note di dunia maya, tanpa ada kekuatan untuk mengadakan perubahan radikal. Karena dia hanya lah seorang staff rendahan di sebuah pabrik di Jawa Barat. terluka hati ini ketika sadar bahwa dirinya hanya bisa menghina, mencerca, memaki bobroknya negeri tercinta ini tanpa bisa meperbaikinya dengan suatu tindakan realistis. Tapi haruskah untuk menjadi bangsa yang lebih baik harus melewati kejadian seperti tahun 98 lagi?? Haruskah untuk menjadi bangsa yang bermartabat kita mesti perang saudara hingga keluar korban nyawa layaknya era 98 kemarin?? Sementara bangsa lain sudah mempersiapkan warganya supaya bisa liburan di bulan, bangsa ini lebih fokus mempersiapkan warganya supaya bisa liburan di tempat paling tenang dalam keabadian. tercabik rasanya ketika melhat bangsa tetangga yang mencapai kesuksesan luar biasa, padahal usianya tidak lebih dari separuh kemerdekaan kita. tapi, hati ini masih bersyukur karena Tuhan masih memberikan nurani dan perasaannya terhadap hambanya yang lemah ini. tidak seperti mereka di atas sana yang kadang terselip pertanyaan dalam hati, masihkah mereka percaya ada Tuhan di sana yang senantiasa mengawasi segala perbuatan hamba-Nya? teringat benak ini terhadap apa yang telah diucapkan Leo Tolstoy 1 abad yang lalu, Tuhan Maha Tahu tapi Dia Menunggu...

apakah kita akan menunggu Tuhan mengingatkan kita dengan azab-Nya??