SERAGAM!! kata yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi media massa di negeri tercinta ini. Di negara (yang kata orang luar sana masih belum terlalu bagus minat bacanya ini) kita sangat sulit untuk menemukan adanya diferensiasi yang jelas dari setiap media massa yang terbit. Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti halnya nama lengkap dari negara ini, (bukan maksud menghina, tapi ini fakta) amat sangat bersatu dalam segala hal. Kesatuan begitu terasa disini. Indonesia yang satu, layaknya sumpah pemuda dahulu yang dikumandangakan para pemuda era dulu, masih sangat kuat higga kini.
Saking satunya, warganya hanya mengenal satu jenis aliran musik, yaitu pop kemelayu melayuan, yang pasarnya begitu kuat dikendalikan para pemilik modal, sehingga tak ada ruang bagi mereka para seniman untuk mencoba suatu kebaruan dalam bermusik. Tak ada tempat bagi mereka para pedangdut yang di tahun ini sudah begitu banyak yang gulung tikar dikarenakan sepi order, karena ketiadaan order dari para pengelola bisnis entertainment dengan kalimat yang menyakitkan "sekarang sudah bukan eranya musik dangdut. sekarang eranya pop".
saking satunya, sutradaranya hanya mengenal satu jenis film yang temanya bergantung pada selera pasar. Kalau dulu ada era horor, maka semua sutradara akan berlomba-lomba membuat film yang sama. Tidak ada yang namanya idealisme dalam berkarya. Yang ada hanyalah pemenuhan selera pasar, maka tak heran kalau jumlah film-film yang berkualitas buatan Indonesia sangat sedikit, berbeda dengan Thailand atau China yang begitu produktif membuat film yang berkualitas tanpa mengesampingkan idealisme berkarya.
Saking satunya, media massa hanya mengenal satu jenis berita terutama berita-berita yang terkadang malah lebih banyak efek dramatisasinya dibandingkan substansi beritanya. Padahal media massa di Indonesia ini sudah lumayan banyak, untuk televisi ada kurang lebih 13 stasiun tv swasta nasional, belum lagi ditambah tv-tv lokal plus tv-tv kabel. Tapi, ya karena saking satunya, semuanya menayangkan berita yang sama. Kalau kemarin-kemarin semua stasiun tv menayangkan Polri yang digdaya karena berhasil menangkap teroris kelas kakap, kini eranya menayangkan tayangan pertarungan para reptil-reptil kelas kakap di negeri ini. Karena saking satunya itulah, maka tak heran jarang ada stasiun tv yang menayangkan berita tawuran antar dua kampung di Bima NTB yang dianggapnya kurang prestisius beritanya dibandingkan berita para reptil yang saling bertarung tsb, Pdahal tawuran tsb berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa, tak kalah penting dari berita para reptil tersebut.
Tak heran pula, karena saking satunya, tak banyak yang meliput tentang tawuran antar etnis Ambon dengan etnis Betawi di Jakarta, karena beritanya masih kalah gengsi oleh para reptil2 tsb. Ada lagi berita pemukulan seorang siswa SMAN 82 Jkt yang dikeroyok oleh puluhan seniornya akibat siswa yang dikeroyok tersebut melintas di koridor depan sebuah kelas yang menurut para senior2 tsb tdak boleh dilewati junior2nya., berita ini juga masih kalah oleh berita para reptil2 tsb.
Berita perseteruan yang melibatkan persekongkolan tingkat tinggi memang merupaan berita yang sangat penting untuk diikuti dan diberitakan kepada khalayak ramai. Namun, ketika terjadi suatu pengaihan berita terhadap berita lainnya, maka itu akan menjad suatu hal yang buruk. Orang menjadi hanya tahu kasus rekaman KPK, perseteruan Polri vs KPK, berita Anggodo, tanpa tahu sedang apa KPK saat ini, tanpa tahu kasus apa yang tengah disidik KPK saat ini, tanpa ada yang memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyrakat sekitarnya, Tanpa tahu ada yang tengah berperang dalam suatu daerah, tanpa tahu perkembangan pemberantasan korupsi sampai sejauh mana, tanpa ada yang memperhatikan program2 SBY apa yang akan dilaksanakan yang pada kampanye kemarin begitu dielu-elukan tapi kini seperti kehilangan gemanya, tanpa ada yang mengamati pergerakan harga meinyak dunia yang saat ini mulai merangkak naik. Tanpa ada yang mengamati, bahwasanya perkembangan ekonomi saat ini cenderung stagnan dan tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Berita konspirasi tinggi memang berita yang sangat penting, tapi bukan berarti menyingkirkan berita-berita yang lain. Ataukah ini memang sengaja diciptakan konsisi yang seperti itu supaya rakyat menjadi buta berita lain yang juga tak kalah pentingnya? Ataukah memang direkayasa sedemikian rupa agar fokus utama yang kemarin2 akan menjadi headline pemberitaan menjadi kalah saing beritanya dengan berita perseteruan ini??
kesatuan memang indah bagi suatu negara majemuk tapi tidak untuk pemberitaan, kesenian, dan kreativitas.
tulisan ini tak lebih dari sekedar catatan pengingat untuk para penguasa dari orang-orang terpinggirkan, yang tak kenal lelah untuk bertahan hidup di negara yang kata Koes plus bilang kolamnya kolam susu tapi kini tak lebih dari kolam penampungan tissue.
skip to main |
skip to sidebar
Sebuah jurnal pribadi, catatan tentang pemikiran yang berkecamuk dalam menanggapi fenomena sosial masyarakat di sekitarnya
Jumat, 18 Desember 2009
der Dunkelheit's Fan Box
der Dunkelheit on Facebook
KafeBlogger.com
Mengenai Saya
- iman krisman
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
- orang yang tidak oportunis, optimis, dan tidak borjuis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar