Sabtu, 31 Januari 2009

Comfort Zone

PERCOBAAN TERHADAP KATAK

Beberapa tahun lalu beberapa ilmuwan melakukan sebuah percobaan sederhana terhadap seekor katak. Dalam percobaan pertama, mereka memasukkan seekor katak ke dalam sebuah bejana air yang sedang mendidih dan katak itu langsung melompat keluar dari bejana itu. Selanjutnya, dalam percobaan kedua mereka menempuh pendekatan lain yaitu meletakkan katak itu ke dalam bejana yang berisi air dingin. Katak itu menyukainya dan diam dalam bejana itu dengan tenangnya. Para ilmuwan lalu menyalakan tombol pemanas bejana. Selagi air mulai menghangat, katak itu merasa nyaman dan diam di dalam bejana. Ia sangat senang sehingga dia tidak banyak bergerak, malah diam saja, di dalam bejana itu dan perlahan-lahan tapi pasti, katak itu menjadi matang.

Sebagian besar dari kita berada di daerah yang nyaman (comfort zone). Kita mempunyai sebuah rumah sebagai tempat tinggal, sebuah ranjang yang nyaman untuk tidur, makanan di dalam kulkas, teman-teman untuk bergaul, bersamaan dengan kebutuhan2 dasar hidup lainnya. Kita telah bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita miliki sekarang, lalu mengapa kita harus mengubah semua ini ? Realitanya sebagian besar dari kita adalah seperti katak, sebab kita merasa nyaman dan senang, kita menolak untuk keluar dari daerah kita yang nyaman dan lebih suka menikmati apa yang telah kita miliki sekarang ini.


Kutipan diatas diambil dari buku berjudul “Sukses itu gampang” karangan. Michael Wong.
Mungkin buat bahan renungan kita bersama, karena situasi dan kondisi negara kita yang makin tdk jelas, tidak ada yang menjamin daerah yang nyaman itu akan nyaman selamanya, tidak ada yang menjamin Perusahaan tempat kita bekerja apakah itu BUMN, Swasta Negeri atau Asing, tidak menutup perusahaannya atau memPHK kan karyawannya. Tidak menjamin karyawan dengan segala title sarjana S1-S2-S3 dsb tdk kena resiko PHK.


Artikel ini pernah dimuat di KOMPAS (Cuma lupa tanggalnya), yaitu tentang penutupan PT DIRGANTARA INDONESIA, sebagian besar tenaga ahli di perusahaan ini bergelar S1,S2 dan S3, setelah perusahaan ini tutup, mereka menerima pesangon, ada yang digunakan untuk melunasi cicilan rumah, mobil, tabungan buat bertahan sampai dapat pekerjaan lagi atau untuk usaha. Sayangnya tidak semua orang mempunyai keahlian dalam membuka usaha, apalagi pesangonnya tdk besar.
Tragisnya dalam artikel itu disebutkan ada mantan karyawan PT tersebut menjadi PENJUAL ES KELILING. (padahal dg gelar S1,S2 atau S3?) Itulah yang menjadi pilihan terakhir karena kondisi sekarang tidak mudah untuk mencari kerja, apalagi di usia yang mulai tidak produktif.

Atau, bagaimana jika Perusahaan tempat kita bekerja tetap sehat, kita tetap bekerja didalamnya, namun karena beban kerja yang sangat berat kesehatan menjadi taruhannya. Contoh simple aja, pernah ya kita dengar seseorang sedang meeting tiba2 terserang stroke dan wafat di tempat saat itu juga ? Padahal anda adalah tulang punggung di keluarga

BAGAIMANA DENGAN ANDA ??

Tahun2 yg lewat
<<<<<<<__________th2008_____________th>

SETELAH USIA 55 TAHUN, APAKAH KEBUTUHAN FINANCIAL ANDA BERHENTI?

- Bagaimana kondisi financial anda sebelum tahun 2008
- Bagaimana kondisi financial anda 5 – 10 tahun mendatang, dengan prediksi
anda, apakah akan ada perubahan yang significan?
- Apa yang sudah anda siapkan untuk pensiun dan kebutuhan apa yang
belum terpenuhi
- Apakah anda siap mengorbankan dana pensiun/pesangon untuk memulai
bisnis yang belum pernah anda lakukan sebelumnya?
- Apa yang dapat anda lakukan SEKARANG, saat masih muda, saat masih
bertenaga, saat relasi masih banyak, saat belum ada pengalaman dalam
berbisnis……


Pikirkan yang terbaik untuk anda dan keluarga………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar